Guru SMP Berani Membela Nadiem di Sidang: Chromebook Jadi Alat Bantu yang Dipuji
Guru SMP Berani Membela Nadiem di Sidang: Chromebook Jadi Alat Bantu yang Dipuji

Guru SMP Berani Membela Nadiem di Sidang: Chromebook Jadi Alat Bantu yang Dipuji

Frankenstein45.Com – 12 Mei 2026 | Seorang guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) bernama Irawan Prasetyo menjadi sorotan publik setelah tampil di persidangan Tipikor Jakarta, Senin 11 Mei 2026, untuk membela mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Irawan, yang mengajar mata pelajaran Teknologi Informasi, menyatakan bahwa kehadirannya di ruang sidang bukan sekadar sebagai saksi, melainkan sebagai pendukung nyata atas kebijakan digitalisasi yang dipromosikan Nadiem, terutama penggunaan Chromebook di lingkungan pendidikan.

Guru SMP yang Tak Gentar Menghadapi Sidang

Dalam sesi tanya jawab yang dipimpin jaksa penuntut umum, Irawan mengungkapkan bahwa ia telah menggunakan Chromebook selama dua tahun terakhir di kelasnya. Menurutnya, perangkat tersebut meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar, mempercepat akses materi digital, serta mengurangi beban administrasi bagi guru. “Saya hadir di sini karena saya percaya bahwa kebijakan Chromebook bukan sekadar agenda politik, melainkan solusi praktis yang telah terbukti membantu saya dan murid‑murid,” kata Irawan dengan tegas.

Ia menambahkan bahwa pada awal pengadaan laptop berbasis Chromebook, banyak guru yang skeptis. Namun, setelah merasakan manfaatnya, sikap berubah drastis. “Dulu saya masih ragu, takut perangkat ini tidak tahan lama. Sekarang, setelah melihat hasilnya, saya justru merekomendasikannya kepada rekan‑rekan guru di kota saya,” ujar Irawan.

Kontroversi Pengadaan Chromebook

Sidang tersebut menyoroti tuduhan adanya “shadow organization” di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang konon memfasilitasi pengadaan laptop Chromebook secara tidak transparan. Jaksa menuduh Nadiem Makarim telah memanfaatkan jaringan pribadi, termasuk sosok Jurist Tan, yang disebut sebagai “The Real Menteri”. Nadiem membantah semua tuduhan, menegaskan bahwa keputusan penggunaan Chromebook tidak bersifat unilateral, melainkan hasil diskusi internal yang melibatkan berbagai pihak.

Selama persidangan, Nadiem menampilkan bukti percakapan internal yang menunjukkan ia menolak pemaksaan satu jenis perangkat. “Make sure both sides of argument of Chromebook versus PC is there,” ia kutip dari pesan grup internal, menegaskan komitmen pemerintah untuk memberikan pilihan yang seimbang.

Peran Chromebook dalam Praktik Mengajar

Menurut Irawan, Chromebook mempermudah integrasi kurikulum digital. Ia menyebutkan tiga aspek utama yang paling terasa:

  • Kolaborasi Real‑Time: Murid dapat mengerjakan tugas bersama secara online, mempercepat proses feedback.
  • Keamanan Data: Sistem operasi Chrome OS mengurangi risiko virus, sehingga guru tidak perlu menghabiskan waktu memelihara perangkat.
  • Biaya Pemeliharaan Rendah: Karena perangkat berbasis cloud, kebutuhan hardware tambahan menjadi minimal.

Pengalaman Irawan sejalan dengan data yang dirilis Kementerian pada akhir 2025, yang mencatat peningkatan rata‑rata nilai Ujian Nasional (UN) sebesar 4,2 poin di sekolah‑sekolah yang mengimplementasikan Chromebook secara penuh.

Reaksi Publik dan Media

Berita kehadiran seorang guru di persidangan langsung menjadi viral di media sosial. Netizen memuji keberanian Irawan, sekaligus menilai bahwa suara praktisi lapangan seharusnya lebih diperhatikan dalam kebijakan teknologi pendidikan. Beberapa komentar menyoroti pentingnya melibatkan guru dalam proses pengadaan, sehingga tidak terjebak pada keputusan yang bersifat top‑down.

Di sisi lain, kritikus tetap menekankan pentingnya transparansi dalam proses tender. Mereka menuntut audit independen untuk memastikan tidak ada praktik korupsi dalam pengadaan perangkat.

Kesimpulan

Keberadaan Irawan Prasetyo di ruang sidang mencerminkan dinamika kompleks antara kebijakan pemerintah, praktik lapangan, dan isu korupsi yang sedang disorot. Meskipun proses hukum masih berjalan, satu hal jelas: Chromebook telah menjadi alat bantu yang signifikan bagi guru SMP di Indonesia, dan keberanian seorang pendidik untuk membela kebijakan tersebut menambah dimensi baru dalam perdebatan publik tentang digitalisasi pendidikan.