Gus Salam Siapkan Langkah Strategis, Minta Izin ke Ketua PBNU Sebelum Garap Jabatan Caketum
Gus Salam Siapkan Langkah Strategis, Minta Izin ke Ketua PBNU Sebelum Garap Jabatan Caketum

Gus Salam Siapkan Langkah Strategis, Minta Izin ke Ketua PBNU Sebelum Garap Jabatan Caketum

Frankenstein45.Com – 29 April 2026 | KH Abdussalam Shohib, yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Salam, mengumumkan kesiapan dirinya untuk maju menjadi calon Ketua Tanfidziyah (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Jawa Timur ini menegaskan bahwa proses pencalonannya telah dilandasi dengan pendekatan tradisional: menunaikan sowan ke para kiai sepuh di seluruh Indonesia serta meminta izin resmi kepada pimpinan tertinggi PBNU.

Langkah Formal Meminta Izin ke Pimpinan PBNU

Gus Salam mengaku telah menyampaikan niatnya secara langsung kepada KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU, ketika kebetulan bertemu di Yogyakarta. Selanjutnya, pertemuan dengan Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dilakukan di Jombang. Kedua tokoh tersebut memberikan respons positif; Gus Ipul menyarankan agar Gus Salam “silakan berproses”, sementara Gus Yahya menegaskan bahwa semua pihak “bisa berikhtiar”.

Rangkaian Sowan ke Kiai Sepuh

Dalam rangka memperoleh dukungan dan doa restu, Gus Salam melakukan rangkaian kunjungan ke sejumlah kiai ternama. Berikut daftar singkat para kiai yang telah disapa:

  • Kiai Nurul Huda Ploso (Lirboyo)
  • Kiai Anwar Manshur (Lirboyo)
  • Kiai Kafabihi Mahrus (Lirboyo)
  • Kiai Kholil As’ad (Situbondo)
  • Kiai Fuad Nurhasan (Sidogiri)
  • Kiai Miftachul Akhyar
  • Kiai Abdul Hannan (Kediri)
  • Kiai Ma’ruf Amin (Jakarta)
  • Kiai Said Aqil (Jakarta)
  • Kiai Ubaidillah Ruhiyat (Jawa Barat)
  • Kiai Abun Bunyamin (Rois Syuriah)
  • Kiai Nuh Addawami
  • Guru Wildan (Kalimantan Selatan)
  • Kiai Ubaidullah Shodaqoh (Jawa Tengah)
  • Kiai Asep Saifuddin Chalim (Jawa Timur)

Gus Salam melaporkan bahwa respons para masyayikh sangat menguatkan, dengan doa restu untuk mengabdi di Muktamar NU tahun ini. Ia menekankan bahwa tujuan utama adalah mengembalikan harmoni NU seperti masa lalu, sekaligus mengatasi apa yang ia nilai sebagai “islah semu” dalam struktur organisasi PBNU.

Analisis Islah Semu dan Tantangan Organisasi

Menurut Gus Salam, proses islah yang sedang berlangsung di PBNU tidak menghasilkan perubahan substantif. Ia menyoroti menumpuknya surat keputusan (SK) cabang NU yang belum selesai dikeluarkan, serta stagnasi dalam penyelesaian masalah wilayah. Kondisi tersebut, kata Gus Salam, menandakan bahwa kepentingan organisasi sudah tidak berjalan efektif.

Dengan latar belakang tersebut, Gus Salam menilai perlunya revitalisasi kepengurusan melalui kepemimpinan yang dapat menjembatani kepentingan daerah, mempercepat penyelesaian SK, dan menumbuhkan semangat kebersamaan di antara anggota NU. Ia menegaskan bahwa dukungan para kiai sepuh menjadi fondasi moral untuk melaksanakan agenda reformasi internal.

Visi Gus Salam Sebagai Calon Caketum PBNU

Visi Gus Salam mencakup tiga pilar utama: (1) memperkuat jaringan komunikasi antar cabang NU di seluruh Indonesia, (2) mempercepat proses administratif seperti penerbitan SK‑SK yang masih menunggu persetujuan, dan (3) menumbuhkan semangat islah yang tulus, bukan sekadar formalitas. Ia juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam pengambilan keputusan, guna memastikan keberlanjutan gerakan NU ke depan.

Gus Salam menutup pernyataannya dengan harapan bahwa proses seleksi calon ketua Tanfidziyah akan berlangsung adil, transparan, dan didukung oleh seluruh elemen NU, sehingga hasil akhirnya dapat meneguhkan posisi PBNU sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang mampu beradaptasi dengan dinamika sosial‑politik masa kini.

Dengan langkah-langkah yang telah diambil—mulai dari sowan ke kiai sepuh, meminta izin resmi kepada pimpinan PBNU, hingga mengemukakan analisis kritis tentang kondisi organisasi—Gus Salam menyiapkan diri sebagai figur yang siap mengemban tanggung jawab ketua Tanfidziyah. Waktu akan menentukan apakah dukungan luas yang ia peroleh mampu mengantarkannya ke kursi tertinggi dalam struktur PBNU.