Frankenstein45.Com – 29 Juni 2026 | Harga gas alam cair (LNG) dunia mengalami lonjakan tajam sejak awal konflik di Timur Tengah, memicu kekhawatiran bagi negara pengimpor seperti Indonesia.
Peningkatan tersebut dipicu oleh gangguan pasokan minyak dan gas serta ketidakpastian geopolitik yang membuat pasar energi menjadi sangat volatil. Harga spot LNG yang biasanya berada di kisaran $10‑$12 per MMBtu pada kuartal pertama 2024 melonjak hingga mencapai $15‑$18 per MMBtu pada pertengahan tahun ini.
| Tanggal | Harga LNG (USD/MMBtu) |
|---|---|
| Jan‑2024 | 11 |
| Jun‑2024 | 13 |
| Jul‑2024 | 17 |
Kenaikan harga ini berdampak langsung pada biaya produksi industri petrokimia dan listrik berbasis gas, yang pada gilirannya meningkatkan tarif listrik konsumen akhir.
Reforminer, sebuah lembaga think‑tank kebijakan energi, menyatakan bahwa situasi ini merupakan momentum tepat bagi pemerintah Indonesia untuk meninjau kembali kebijakan Harga Gas Bumi Terukur (HGBT) dan skema insentif pajak yang ada.
- Mengkaji ulang struktur tarif HGBT agar lebih fleksibel terhadap fluktuasi harga dunia.
- Memberikan insentif pajak tambahan bagi perusahaan yang meningkatkan efisiensi penggunaan LNG.
- Mendorong investasi dalam fasilitas regasifikasi dan infrastruktur penyimpanan gas untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menurunkan beban biaya energi pada sektor industri, menjaga daya saing produk domestik, serta melindungi konsumen dari kenaikan tarif listrik yang berlebihan.
Pemerintah diperkirakan akan mengadakan rapat koordinasi lintas kementerian dalam beberapa minggu ke depan untuk menilai rekomendasi Reforminer dan menyiapkan regulasi yang lebih adaptif.




