Harga LPG 12 Kg Melonjak, Bahlil Ungkap Rencana CNG Setara Harga Gas Melon untuk Redam Beban Konsumen
Harga LPG 12 Kg Melonjak, Bahlil Ungkap Rencana CNG Setara Harga Gas Melon untuk Redam Beban Konsumen

Harga LPG 12 Kg Melonjak, Bahlil Ungkap Rencana CNG Setara Harga Gas Melon untuk Redam Beban Konsumen

Frankenstein45.Com – 07 Mei 2026 | Pada awal Mei 2026, harga elpiji 12 kilogram mengalami kenaikan signifikan menjadi sekitar Rp228 ribu per tabung, menimbulkan kekhawatiran di kalangan konsumen rumah tangga serta pelaku usaha kecil. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi faktor internasional, termasuk fluktuasi harga minyak dunia, serta beban subsidi pemerintah yang terus meningkat. Di tengah situasi tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan langkah strategis pemerintah untuk menstabilkan harga energi rumah tangga melalui pengembangan compressed natural gas (CNG) yang diharapkan dapat bersaing secara langsung dengan LPG.

Rencana Penetapan Harga CNG Sejajar dengan LPG 3 Kg

Dalam konferensi pers yang diadakan pada 6 Mei 2026, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tengah mengkaji rencana menjadikan CNG sebagai alternatif LPG tiga kilogram atau yang lebih dikenal sebagai “gas melon”. Menurutnya, target utama adalah agar harga CNG dapat disamakan dengan harga LPG 3 kilogram, sehingga konsumen tidak merasakan beban tambahan saat beralih ke sumber energi yang lebih bersih.

“Doakan seperti itu ya, minimal sama antara harga CNG dengan gas melon,” ujar Bahlil di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat. Ia menambahkan bahwa uji coba tabung CNG berukuran tiga kilogram sedang berlangsung, sementara tabung berkapasitas 12 dan 20 kilogram telah dipakai di sektor perhotelan dan restoran, menunjukkan efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan tabung LPG konvensional.

Alasan Pemerintah Menggali Alternatif CNG

Beberapa faktor mendorong pemerintah untuk mencari alternatif LPG. Pertama, Indonesia masih mengimpor LPG sekitar 8,6 juta ton per tahun, dengan nilai devisa mencapai antara Rp120 triliun hingga Rp160 triliun. Kedua, subsidi LPG yang diberikan pemerintah berkisar antara Rp80 triliun hingga Rp500 triliun per tahun, menambah beban fiskal negara. Ketiga, temuan cadangan gas alam raksasa di lepas pantai Kalimantan Timur—dengan estimasi sumber daya gas mencapai 5 triliun kaki kubik serta 300 juta barel kondensat—menyediakan potensi besar untuk mengalihkan ketergantungan pada LPG impor.

Dengan stok gas nasional yang saat ini berada pada kondisi surplus, Bahlil menilai bahwa pemanfaatan CNG dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menurunkan beban subsidi sekaligus meningkatkan kemandirian energi nasional.

Progres Uji Coba dan Aspek Keamanan

Pengujian tabung CNG berukuran tiga kilogram masih dalam tahap akhir, namun Bahlil menegaskan bahwa semua aspek keselamatan akan diuji secara menyeluruh sebelum distribusi masif dilakukan. Ia menambahkan, “Kalau sudah diuji selesai, aspek keselamatannya, itu mau berapa pun di Indonesia ada, karena gas kita oversupply.” Pernyataan ini menegaskan kesiapan pemerintah dalam menghadapi tantangan logistik dan regulasi terkait penggunaan CNG pada skala nasional.

Dampak Kenaikan Harga LPG Terhadap Masyarakat

Kenaikan harga LPG 12 kilogram menjadi Rp228 ribu berdampak langsung pada daya beli rumah tangga, terutama di daerah-daerah yang belum memiliki infrastruktur gas kota. Menurut data internal Kementerian ESDM, hampir 60% rumah tangga di wilayah perkotaan masih mengandalkan tabung LPG 12 kilogram sebagai sumber utama untuk memasak. Kenaikan harga ini berpotensi memicu peningkatan beban pengeluaran bulanan, yang pada gilirannya dapat memperburuk inflasi makanan.

Selain itu, sektor usaha kecil seperti warung makan dan katering juga merasakan tekanan biaya operasional yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, alternatif CNG dengan harga kompetitif dapat menjadi penyelamat, terutama bagi industri yang sudah familiar dengan penggunaan tabung CNG berkapasitas lebih besar.

Prospek Masa Depan Pasokan Gas Nasional

Dengan eksplorasi sumur Geliga-1 yang dikelola perusahaan energi asal Italia, ENI, serta potensi cadangan gas yang melimpah, pemerintah menargetkan peningkatan produksi gas domestik dalam lima tahun ke depan. Peningkatan produksi ini diharapkan dapat menurunkan kebutuhan impor LPG secara bertahap, sekaligus memberi ruang bagi pemerintah untuk menurunkan subsidi secara bertahap.

Jika CNG berhasil diintegrasikan secara luas, diharapkan harga energi rumah tangga dapat menjadi lebih stabil, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar internasional yang rawan fluktuasi.

Secara keseluruhan, langkah pemerintah melalui Kementerian ESDM untuk menyeimbangkan harga LPG dan CNG mencerminkan upaya jangka panjang dalam mengatasi masalah energi nasional. Dengan mengoptimalkan cadangan gas dalam negeri, menurunkan beban subsidi, dan menyediakan alternatif yang lebih ramah lingkungan, diharapkan beban ekonomi pada konsumen dapat berkurang serta stabilitas energi Indonesia terjaga.