Frankenstein45.Com – 11 Mei 2026 | Jakarta, 10 Mei 2026 – Pemerintah menegaskan tantangan besar yang dihadapi sektor energi domestik. Pada tahun 2026, devisa Indonesia yang dibutuhkan untuk membeli LPG impor mencapai antara Rp120 hingga Rp150 triliun, angka yang setara dengan hampir seluruh anggaran subsidi energi.
Beban Devisa dan Subsidi Energi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa beban devisa untuk LPG dapat melambung bila harga minyak dunia naik. Data Kementerian Keuangan menunjukkan tren peningkatan subsidi LPG: Rp67,6 triliun pada 2021, Rp100,4 triliun pada 2022, turun menjadi Rp74,3 triliun pada 2023, kembali naik menjadi Rp80,9 triliun pada 2024, dan mencapai Rp87 triliun pada 2025.
Direktorat Jenderal Migas mencatat bahwa impor LPG terus meningkat. Pada 2021, impor mencapai 6,34 juta ton dari total konsumsi 8,36 juta ton (≈75 %). Pada 2025, angka impor naik menjadi 7,49 juta ton dari total konsumsi 9,24 juta ton, sehingga lebih dari 80 % kebutuhan LPG masih harus dipenuhi dari luar negeri.
| Tahun | Impor LPG (juta ton) | Konsumsi Nasional (juta ton) |
|---|---|---|
| 2021 | 6,34 | 8,36 |
| 2025 | 7,49 | 9,24 |
Strategi Pemerintah: DME dan CNG
Untuk memotong ketergantungan pada impor, pemerintah menyiapkan dua jalur utama. Pertama, pengembangan dimetil eter (DME) berbasis batu bara berkalori rendah yang dikerjasamakan antara MIND ID, Pertamina, Bukit Asam, dan Pertamina Patra Niaga. Proyek DME telah dimasukkan dalam program hilirisasi nasional dan diresmikan pada akhir April 2026.
Kedua, konversi kendaraan berbahan bakar bensin ke Compressed Natural Gas (CNG) dipandang sebagai langkah cepat untuk menurunkan permintaan LPG di sektor transportasi. Ketua Komunitas Mobil Gas (Komogas), Andy Lala, menjelaskan variasi biaya konversi yang tersedia:
- Perangkat baru berstandar Eropa: Rp 25 juta.
- Perangkat baru produksi China: Rp 16‑18 juta.
- Perangkat bekas dengan kualitas setara Eropa: Rp 12‑13 juta (masa pakai tabung hingga 2034‑2037).
Harga CNG yang kompetitif, didukung oleh pasokan gas alam domestik yang melimpah, diharapkan dapat menurunkan beban subsidi LPG sekaligus mengurangi tekanan pada devisa.
Dampak Harga BBM Diesel Terhadap Permintaan LPG
Peningkatan harga diesel non‑subsidi pada bulan Mei 2026, misalnya Pertamina Dex yang naik dari Rp 14 500 menjadi Rp 23 900 per liter, menambah beban biaya operasional kendaraan. Kenaikan ini mendorong sebagian pemilik kendaraan diesel untuk mempertimbangkan alternatif bahan bakar yang lebih murah, termasuk CNG dan DME. Namun, LPG tetap menjadi pilihan utama bagi rumah tangga karena ketersediaannya di seluruh wilayah Indonesia.
Prospek Harga LPG ke Depan
Jika tren impor tetap, tekanan pada devisa dan subsidi akan terus bertambah. Namun, keberhasilan proyek DME dan skala konversi CNG dapat menurunkan permintaan LPG impor hingga 20 % dalam lima tahun ke depan. Pemerintah menargetkan agar pada 2030, setidaknya 30 % kebutuhan energi rumah tangga dapat dipenuhi oleh sumber energi dalam negeri, baik melalui DME, CNG, maupun peningkatan produksi LPG domestik.
Secara keseluruhan, meski harga LPG masih dipengaruhi oleh fluktuasi pasar minyak dunia dan kebutuhan impor yang tinggi, kebijakan diversifikasi energi dan dukungan finansial untuk konversi CNG memberikan harapan bagi stabilisasi devisa serta pengurangan beban subsidi. Pemerintah diharapkan terus memantau harga internasional, mempercepat proyek DME, dan menyederhanakan prosedur konversi CNG agar manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.




