Harga Minyak Dunia Berfluktuasi Tajam: Dari Penurunan 5% Hingga Kenaikan Mendekati USD 100, Dampak pada Asia dan BBM Nasional
Harga Minyak Dunia Berfluktuasi Tajam: Dari Penurunan 5% Hingga Kenaikan Mendekati USD 100, Dampak pada Asia dan BBM Nasional

Harga Minyak Dunia Berfluktuasi Tajam: Dari Penurunan 5% Hingga Kenaikan Mendekati USD 100, Dampak pada Asia dan BBM Nasional

Frankenstein45.Com – 29 Mei 2026 | Pasar energi global kembali berada di titik volatil pada 28 Mei 2026. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dan Brent mengalami pergerakan yang kontras dalam satu hari perdagangan, dipicu oleh dinamika politik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta respons pasar terhadap prospek diplomasi.

Penurunan Tajam di Pagi Hari

Pagi hari di Jakarta mencatat penurunan tajam harga minyak dunia setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyampaikan bahwa Washington terbuka untuk setiap peluang perundingan dengan Iran. Menurut laporan CNBC, harga WTI turun lebih dari 5% dan ditutup pada level USD 88,68 per barel, sementara Brent berakhir pada USD 94,29 per barel. Pernyataan Rubio muncul bersamaan dengan rapat kabinet di Gedung Putih yang menekankan kemajuan dalam dialog dengan Tehran, meski tetap menyiapkan opsi militer bila negosiasi gagal.

Kenaikan Kembali Akibat Eskalasi Militer

Namun, pergerakan harga tidak berakhir pada penurunan. Sekitar tengah hari, laporan dari Reuters dan Investing.com mengonfirmasi serangan militer AS kedua kali minggu itu terhadap situs militer Iran di Bandar Abbas. Serangan tersebut menimbulkan kembali kekhawatiran atas keamanan Selat Hormuz, jalur penting bagi satu perenam pasokan minyak dunia. Akibatnya, harga Brent berjangka Juli melonjak 1,9% menjadi USD 96,03 per barel, dan WTI naik menjadi USD 90,36 per barel. Pada sesi penutupan, WTI mencapai USD 90,10 per barel, menembus ambang psikologis USD 90.

Dampak Terhadap Ekonomi Asia

Lonjakan harga energi ini menimbulkan kekhawatiran khususnya bagi negara‑negara Asia yang sangat bergantung pada impor minyak. Austan Goolsbee, Presiden Federal Reserve Chicago, menilai bahwa fluktuasi energi kini menciptakan “guncangan stagflasi” yang lebih persisten dibandingkan perkiraan pasar sebelumnya. Harga energi yang tetap tinggi memperburuk inflasi regional, menekan daya beli konsumen, serta meningkatkan biaya produksi di sektor manufaktur dan transportasi.

Stabilitas Harga BBM di Dalam Negeri

Meski pasar internasional bergejolak, pemerintah Indonesia tetap menjamin stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Pertalite (RON 90) dan Biosolar tetap dijual masing-masing seharga Rp 10.000 dan Rp 6.800 per liter, tanpa ada indikasi kenaikan hingga akhir tahun 2026. Kebijakan ini diharapkan menahan dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap konsumen domestik.

Ringkasan Pergerakan Harga

Waktu Komoditas Harga (USD/barel) Perubahan
Pagi (08:00 WIB) WTI 88,68 -5,2%
Pagi (08:00 WIB) Brent 94,29 -5,0%
Siang (13:00 WIB) WTI 90,36 +1,9%
Siang (13:00 WIB) Brent 96,03 +1,9%
Penutupan (23:28 GMT) WTI 90,10 +1,6%

Pergerakan tersebut mencerminkan sensitivitas pasar terhadap setiap perkembangan geopolitik, mulai dari sinyal diplomasi hingga aksi militer di wilayah Timur Tengah.

Secara keseluruhan, harga minyak dunia pada 28 Mei 2026 menunjukkan pola “roller‑coaster” yang dipengaruhi oleh dua faktor utama: harapan perundingan damai yang menurunkan harga, dan aksi militer yang kembali memicu kenaikan. Bagi Asia, terutama Indonesia, kebijakan domestik yang menahan kenaikan BBM menjadi penopang penting untuk menjaga kestabilan inflasi dan daya beli masyarakat. Namun, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi risiko utama yang dapat mengubah arah pasar dalam hitungan jam.