Harga Minyak Dunia Kembali Terkoreksi Usai Iran Buka Selat Hormuz, Bursa AS Cetak Rekor Baru
Harga Minyak Dunia Kembali Terkoreksi Usai Iran Buka Selat Hormuz, Bursa AS Cetak Rekor Baru

Harga Minyak Dunia Kembali Terkoreksi Usai Iran Buka Selat Hormuz, Bursa AS Cetak Rekor Baru

Frankenstein45.Com – 18 April 2026 | Pasar energi global mengalami penurunan tajam pada hari Selasa setelah Iran resmi membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang selama beberapa minggu menjadi sorotan karena ketegangan geopolitik. Penurunan tersebut menurunkan harga minyak mentah Brent dari level tertinggi minggu ini.

Sementara itu, indeks futures minyak di bursa Amerika Serikat mencatat rekor tertinggi meski harga spot mengalami koreksi. Rekor ini mencerminkan ekspektasi pelaku pasar bahwa pasokan global akan kembali stabil setelah hambatan utama di Selat Hormuz teratasi.

Berikut ringkasan pergerakan harga utama:

Waktu Harga Brent (USD/barrel)
Sebelum pembukaan Selat Hormuz 86,00
Setelah pembukaan Selat Hormuz 84,30
Rekor futures di NYMEX 87,10

Para analis menilai bahwa penurunan harga spot dipicu oleh dua faktor utama: pertama, harapan akan peningkatan pasokan minyak dari wilayah Teluk Persia; kedua, sentimen damai yang muncul setelah pernyataan resmi Iran mengenai keamanan navigasi di selat tersebut.

Di sisi lain, rekor tertinggi futures di bursa AS menandakan adanya spekulasi bullish jangka pendek. Investor memperkirakan bahwa volatilitas masih akan berlanjut hingga data inventori minyak Amerika Serikat dirilis, serta respons kebijakan moneter global terhadap inflasi yang masih tinggi.

Implikasi ekonomi global juga menjadi sorotan. Penurunan harga minyak mentah dapat menurunkan biaya produksi dan transportasi, memberikan dorongan bagi sektor manufaktur dan logistik. Namun, negara-negara eksportir minyak yang bergantung pada pendapatan dari komoditas ini mungkin akan merasakan tekanan fiskal.

Secara keseluruhan, pasar minyak berada dalam fase penyesuaian di mana optimism atas pemulihan pasokan bersaing dengan ketidakpastian kebijakan moneter dan data inventori. Para pelaku pasar diimbau untuk memantau perkembangan geopolitik di kawasan Teluk serta laporan ekonomi utama yang akan mempengaruhi arah harga ke depan.