Frankenstein45.Com – 28 Mei 2026 | Kenaikan tajam harga minyak mentah dunia tercatat lebih dari tiga persen setelah serangan militer terbaru Amerika Serikat terhadap Iran. Serangan tersebut memicu kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Laut Arab dengan Teluk Persia.
Selat Hormuz menyumbang sekitar satu perempat produksi minyak dunia. Ketegangan yang meningkat di wilayah ini biasanya langsung memengaruhi persepsi risiko investor, yang pada gilirannya menekan harga komoditas energi.
Berikut ringkasan perubahan harga utama pada sesi perdagangan hari itu:
| Komoditas | Harga Sebelumnya | Harga Saat Ini | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Brent Crude | US$84,20 per barel | US$87,70 per barel | +3,2% |
| WTI | US$80,10 per barel | US$83,50 per barel | +4,2% |
Para analis mengindikasikan bahwa lonjakan ini tidak hanya didorong oleh aksi militer, tetapi juga oleh ekspektasi penurunan pasokan jangka pendek. Jika ketegangan berlanjut, kemungkinan harga dapat melaju lebih tinggi lagi, menambah tekanan pada inflasi global.
Beberapa skenario yang dipertimbangkan meliputi:
- Peningkatan cadangan strategis oleh negara-negara konsumen untuk mengantisipasi gangguan pasokan.
- Pergerakan spekulan di pasar berjangka yang dapat memperparah volatilitas.
- Negosiasi diplomatik antara pihak-pihak terkait untuk membuka kembali jalur pengiriman minyak.
Di sisi lain, produsen minyak non‑OPEC, khususnya Amerika Serikat dan Kanada, mencatat kenaikan produksi domestik yang dapat menyeimbangkan sebagian tekanan pasokan. Namun, ketergantungan dunia pada aliran minyak lewat Selat Hormuz membuat risiko geopolitik tetap menjadi faktor utama.
Jika situasi tidak mereda dalam beberapa minggu mendatang, pasar dapat menyaksikan penyesuaian kebijakan moneter lebih ketat oleh bank sentral guna menahan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi.




