Harga Minyak Melonjak Tajam Usai Ultimatum Trump: Sekutu Cari Pasokan Sendiri
Harga Minyak Melonjak Tajam Usai Ultimatum Trump: Sekutu Cari Pasokan Sendiri

Harga Minyak Melonjak Tajam Usai Ultimatum Trump: Sekutu Cari Pasokan Sendiri

Frankenstein45.Com – 13 April 2026 | Jakarta, 13 April 2026 – Harga minyak mentah dunia kembali menembus level USD 100 per barel pada perdagangan Senin, dipicu oleh ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz setelah kegagalan perundingan damai antara Washington dan Teheran. Blokade yang dijanjikan akan menutup semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran, menambah ketidakpastian pasokan energi global dan memaksa sekutu‑sekutu Amerika Serikat mencari alternatif pasokan sendiri.

Data pasar menunjukkan lonjakan signifikan pada dua acuan utama. West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik hampir 8% menjadi USD 104,20 per barel pada pukul 18.13 ET, sementara Brent untuk pengiriman Juni mencapai USD 101,86 per barel, meningkat 7% dibandingkan hari sebelumnya. Pada pukul 07.52 WIB, harga WTI tercatat pada level USD 104,88, sedangkan Brent berada di sekitar USD 101,91. Kenaikan ini mencerminkan penambahan premi risiko yang besar akibat potensi pemutusan aliran minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang mengangkut sekitar 20% produksi minyak dunia.

Para pengamat menilai bahwa pasar telah mengantisipasi ketegangan ini sebelumnya, namun pola komunikasi Trump yang sering muncul di luar jam perdagangan menambah tekanan psikologis. Wahyu Laksono, analis komoditas, menjelaskan, “Trump masih belum bisa dipercaya; komentarnya yang muncul setelah penutupan pasar Wall Street sering memicu sentimen negatif yang baru terasa ketika pasar kembali dibuka.”

Blokade Selat Hormuz diumumkan oleh Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Minggu pagi, menyatakan bahwa semua kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran akan dilarang melintasi selat. Namun, CENTCOM menegaskan bahwa kapal yang berlayar ke pelabuhan non‑Iran tidak akan terhambat, sehingga jalur perdagangan internasional secara teknis tetap terbuka, meski dengan risiko peningkatan tarif asuransi dan penundaan.

Reaksi pasar keuangan tidak dapat diabaikan. Indeks Dow Jones turun 0,56% ke 47.916,57, S&P 500 melemah 0,11% menjadi 6.816,89, sementara Nasdaq mencatat kenaikan 0,35% ke 22.902,89. Sektor energi, khususnya perusahaan minyak dan gas, mencatat kenaikan nilai saham yang signifikan, menandai pergeseran investor ke aset safe‑haven energi.

Blokade ini juga memaksa negara‑negara sekutu Amerika Serikat, termasuk Arab Saudi, untuk mempercepat pemulihan kapasitas pipa minyak. Saudi melaporkan pemulihan penuh kapasitas pompa East‑West hingga 7 juta barel per hari, upaya untuk menstabilkan pasokan global dan mengurangi tekanan pada pasar yang sudah tegang.

Berikut rangkuman data harga utama yang terjadi pada hari Senin:

  • WTI (May) – USD 104,20 per barel (+7,8%)
  • WTI (real‑time) – USD 104,88 per barel (+8,6%)
  • Brent (June) – USD 101,86 per barel (+7,0%)
  • Brent (real‑time) – USD 101,91 per barel (+7,05%)

Para analis menilai bahwa langkah Trump dapat menambah tekanan pada inflasi global. Di Amerika Serikat, indeks inflasi naik menjadi 3,3% pada Maret 2026, didorong oleh kenaikan harga energi sebesar 12,5%. Jika blokade berlangsung lebih lama, diperkirakan harga bensin di pasar domestik AS akan tetap tinggi hingga pemilihan paruh waktu (mid‑term elections) pada November.

Garda Revolusi Iran mengeluarkan peringatan keras, menyatakan setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan dihadapi tindakan tegas. Meskipun demikian, data pelayaran LSEG mencatat tiga supertanker melintasi selat pada Sabtu sebelum blokade resmi diberlakukan, menandakan bahwa sebagian aliran minyak masih beroperasi secara terbatas.

Secara keseluruhan, kegagalan perundingan damai antara AS dan Iran, ditambah dengan ultimatum Trump, telah mengembalikan pasar energi ke kondisi sebelum gencatan senjata dua minggu lalu. Harga minyak yang berada di atas USD 100 per barel menandai fase baru ketegangan geopolitik yang memaksa pelaku pasar, pemerintah, dan konsumen untuk menyesuaikan strategi masing‑masing. Jika blokade tetap berlangsung, kemungkinan besar harga minyak akan terus berada pada level tinggi, menambah beban pada ekonomi global dan meningkatkan tekanan pada kebijakan moneter di banyak negara.