Hizbullah Gencar Serang Israel, 60 Serangan dalam 24 Jam – Tekanan Baru di Front Barat
Hizbullah Gencar Serang Israel, 60 Serangan dalam 24 Jam – Tekanan Baru di Front Barat

Hizbullah Gencar Serang Israel, 60 Serangan dalam 24 Jam – Tekanan Baru di Front Barat

Frankenstein45.Com – 15 April 2026 | Hizbullah Lebanon meningkatkan intensitas serangan ke wilayah Israel, menandai lonjakan operasi militer yang belum pernah terjadi sejak konflik berkepanjangan antara kedua belah pihak. Dalam 24 jam terakhir, kelompok bersenjata yang didukung Iran melancarkan lebih dari enam puluh serangan roket dan mortir, menyaingi agresi yang selama ini menjadi ciri khas strategi militer Tehran.

Serangan Massal dalam 24 Jam Terakhir

Menurut laporan lapangan, sebanyak 60 proyektil berjenis roket, mortir, dan artileri telah diluncurkan dari posisi-posisi di selatan Lebanon menuju daerah perbatasan utara Israel. Sebagian besar serangan menargetkan pos-pos militer, instalasi pertahanan udara, serta pemukiman warga sipil di wilayah Galilee dan Laut Mati.

  • 30 roket berjarak menengah (40‑70 km) dengan titik dampak utama di wilayah Kiryat Shmona.
  • 20 mortir berkaliber 120 mm diarahkan ke pos militer di sekitar kibbutz Kfar Giladi.
  • 10 artileri panjang menabrak zona pertahanan Israel di daerah Metula.

Serangan tersebut menimbulkan kerusakan material signifikan, meskipun sistem pertahanan udara Iron Dome berhasil menetralkan sekitar 70% proyektil yang masuk.

Strategi Hizbullah dan Hubungan dengan Iran

Para analis menilai bahwa peningkatan agresi Hizbullah tidak lepas dari dukungan logistik dan intelijen yang diberikan oleh Tehran. Sejak awal Maret 2026, Iran telah memperkuat aliansi militernya di wilayah Levant, menyediakan misil balistik, drone, dan persediaan amunisi canggih. Keterlibatan Iran terlihat dalam taktik serangan yang terkoordinasi, mirip dengan operasi yang dilancarkan di Suriah dan Irak pada akhir 2024.

“Kami tidak hanya meniru, kami melampaui pola serangan Iran,” ujar Naim Qassem, wakil pemimpin Hizbullah, dalam sebuah konferensi pers yang disiarkan melalui kanal resmi kepresidenan Iran. Qassem menegaskan bahwa serangan ini merupakan balasan atas “pemboman Israel di Lebanon” serta “penculikan dan pembunuhan tokoh‑tokoh penting Iran” yang terjadi pada awal Maret.

Negosiasi yang Dipertanyakan

Di tengah eskalasi militer, pemerintah Lebanon berusaha membuka jalur diplomatik dengan Israel melalui pertemuan yang dijadwalkan di Amerika Serikat. Namun, Qassem menolak keras rencana tersebut, menyebutnya “sia‑sia”. Ia berargumen bahwa Israel mempergunakan negosiasi sebagai kedok untuk melucuti senjata Hizbullah, sebuah taktik yang telah diungkapkan secara terbuka oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

“Bagaimana kami dapat datang ke meja perundingan ketika tujuannya sudah jelas: melucuti kami?” kata Qassem, menegaskan tekad Hizbullah untuk tetap melanjutkan perlawanan bersenjata.

Dampak Kemanusiaan

Operasi militer terbaru menambah beban kemanusiaan yang sudah berat di kedua sisi perbatasan. Sejak serangan 2 Maret 2026, yang dipicu oleh pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, konflik telah menewaskan minimal 2.055 orang di Lebanon, termasuk 165 anak‑anak dan 87 tenaga medis. Lebih dari 6.500 orang terluka, dan sekitar 1,2 juta warga mengungsi dari rumah mereka.

Di sisi Israel, serangan roket terbaru mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur sipil dan menewaskan setidaknya 12 warga sipil, serta melukai lebih dari 40 orang. Penanganan korban masih berlangsung dengan bantuan organisasi kemanusiaan internasional.

Dengan intensitas serangan yang terus meningkat, kemungkinan terjadinya konflik berskala lebih luas menjadi nyata. Komunitas internasional menyerukan gencatan senjata dan dialog, namun kedua belah pihak tampak masih berpegang pada strategi militer masing‑masing.

Ke depan, wilayah perbatasan Lebanon‑Israel diperkirakan akan tetap menjadi zona panas. Jika Hizbullah melanjutkan operasi ofensifnya dan Iran tetap memberikan dukungan, tekanan terhadap pemerintah Lebanon untuk menolak negosiasi dapat semakin menguat, sekaligus memperparah krisis kemanusiaan yang melanda jutaan orang di wilayah tersebut.