Frankenstein45.Com – 23 April 2026 | Raksasa mode global H&M mengumumkan rencana penutupan 160 toko offline di seluruh dunia pada tahun 2026, langkah yang dipandang sebagai upaya strategis untuk mempercepat transformasi digital dan menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen. Di tengah dinamika industri ritel, keputusan ini sekaligus menyoroti profil pendiri H&M, Erling Persson, yang sejak 1947 mengukir jejak inovatif dalam dunia fashion.
Profil Pendiri: Eran Kekuatan Visioner Erling Persson
Erling Persson, lahir pada 12 Januari 1917 di Vingåker, Swedia, memulai kariernya dengan membuka sebuah toko pakaian kecil bernama Hennes pada tahun 1947. Nama tersebut, yang berarti “wanita” dalam bahasa Swedia, mencerminkan fokus awal Persson pada pakaian wanita. Pada tahun 1968, Persson memperluas usahanya dengan mengakuisisi toko pria bernama Mauritz Widforss, menggabungkan kedua nama menjadi Hennes & Mauritz, atau H&M.
Visi Persson berlandaskan pada prinsip “fashion and quality at the best price”, yang kemudian menjadi mantra global H&M. Di bawah kepemimpinannya, H&M berkembang menjadi jaringan ritel internasional dengan lebih dari 5.000 gerai pada akhir 1990-an. Keberhasilannya tidak lepas dari pendekatan inovatif dalam rantai pasokan, kolaborasi dengan desainer ternama, dan adopsi teknologi informasi pada masa awal era digital.
Setelah pensiun pada awal 1990-an, Persson tetap menjadi sosok inspiratif bagi generasi baru eksekutif H&M. Warisan kepemimpinannya tercermin dalam budaya perusahaan yang menekankan keberlanjutan, inklusivitas, dan adaptasi cepat terhadap tren konsumen.
Strategi Penutupan 160 Toko Offline: Mengapa dan Bagaimana?
Keputusan menutup 160 toko offline merupakan bagian dari strategi restrukturisasi global H&M yang diproyeksikan selesai pada akhir 2026. Analisis pasar menunjukkan penurunan kunjungan fisik di toko ritel tradisional, sementara penjualan online mengalami pertumbuhan dua digit secara konsisten selama lima tahun terakhir.
Langkah ini dirancang untuk:
- Mengoptimalkan biaya operasional dengan mengurangi beban sewa dan logistik.
- Memfokuskan investasi pada platform e‑commerce, teknologi AR/VR, dan layanan personalisasi digital.
- Menata kembali jaringan toko menjadi “experience stores” yang menawarkan konsep interaktif, bukan sekadar penjualan barang.
H&M berencana memindahkan sebagian besar staf toko ke divisi digital, memberikan pelatihan ulang dalam bidang analisis data, manajemen inventaris berbasis AI, dan layanan pelanggan omnichannel. Hal ini diharapkan dapat mempertahankan tingkat pekerjaan sekaligus menyiapkan tenaga kerja yang lebih relevan dengan ekonomi digital.
Implikasi bagi Industri Ritel Indonesia: Peluang dan Tantangan
Di Indonesia, perubahan strategi H&M menjadi sinyal penting bagi pemain ritel lokal, termasuk Matahari Department Store yang baru-baru ini mengubah nama menjadi MDS Retailing. Transformasi nama tersebut mencerminkan upaya diversifikasi portofolio dan penyesuaian model bisnis ke arah omnichannel yang lebih kuat.
Analis pasar menilai bahwa penutupan toko H&M membuka peluang bagi retailer Indonesia untuk mengisi kekosongan segmen fashion mid‑range yang sebelumnya didominasi oleh H&M. Namun, tantangan utama tetap pada kemampuan mengintegrasikan pengalaman belanja offline dan online secara mulus, serta menanggapi ekspektasi konsumen yang semakin menuntut kecepatan dan keberlanjutan.
Berikut beberapa langkah yang dapat diambil oleh MDS Retailing dan pemain sejenis:
- Memperkuat platform e‑commerce dengan integrasi sistem manajemen gudang yang real‑time.
- Mengembangkan konsep “store of the future” yang menggabungkan layanan click‑and‑collect, fitting room digital, dan event komunitas.
- Menjalin kemitraan dengan merek global yang sedang mencari pasar Asia Tenggara untuk ekspansi offline.
Respons Konsumen dan Proyeksi Penjualan
Survei konsumen awal menunjukkan bahwa sekitar 68 % responden menyambut baik penutupan toko H&M asalkan perusahaan meningkatkan layanan online. Sebagian besar menilai bahwa penutupan toko dapat mengurangi jejak karbon, selaras dengan gerakan fashion berkelanjutan yang semakin populer.
Proyeksi keuangan H&M memperkirakan bahwa pendapatan e‑commerce akan menyumbang hingga 35 % total penjualan pada akhir 2027, naik dari 22 % pada 2023. Sementara itu, penutupan toko diharapkan mengurangi beban operasional tahunan sebesar sekitar 120 miliar rupiah, memberikan ruang bagi investasi teknologi dan program keberlanjutan.
Dengan mengadopsi strategi ini, H&M berusaha menyeimbangkan antara efisiensi biaya, inovasi digital, dan komitmen terhadap keberlanjutan, sekaligus menjaga warisan pendirinya, Erling Persson, yang selalu menekankan adaptasi terhadap perubahan zaman.
Keberhasilan transformasi ini akan menjadi tolok ukur bagi industri ritel global, termasuk di Indonesia, dalam menavigasi era digital yang semakin kompetitif.




