Frankenstein45.Com – 25 Juni 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus zona 6.000 poin pada sesi pagi perdagangan di Jakarta, menandai penurunan terparah sejak kuartal pertama 2023. Penurunan tersebut dipicu oleh aksi jual besar-besaran oleh investor asing yang secara bersamaan menurunkan likuiditas pasar.
Data Penurunan dan Arus Modal
Pada pukul 09:30 WIB, IHSG tercatat turun 140,25 poin atau sekitar 2,3 % dibandingkan penutupan sebelumnya, menutup sesi pada level 5.989,73. Simultannya, data Bapepam‑LK menyebutkan bahwa investor asing menjual bersih sekitar IDR 13,2 triliun dalam 24 jam terakhir, setara dengan 7,5 % dari kapitalisasi pasar saham.
| Hari | Net Sell (IDR Triliun) |
|---|---|
| Senin | 4,5 |
| Selasa | 3,8 |
| Rabu | 2,9 |
| Kamis | 1,5 |
| Jumat | 0,5 |
Pengaruh Pengumuman MSCI
Pengumuman terbaru dari MSCI tentang revisi bobot indeks pasar negara berkembang menambah tekanan. MSCI mengindikasikan penurunan alokasi dana ke Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets karena penurunan likuiditas dan volatilitas yang meningkat. Perubahan ini diperkirakan akan memaksa fund luar negeri untuk menyesuaikan portofolio, mempercepat aliran keluar modal.
Dampak Terhadap Pasar Domestik
- Peningkatan spread bid‑ask pada saham-saham likuiditas tinggi.
- Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS karena outflow modal.
- Sentimen investor ritel menjadi lebih berhati‑hati, dengan banyak yang menunda pembelian saham.
Bank sentral Indonesia (BI) diperkirakan akan memantau situasi ini secara ketat dan menyiapkan kebijakan likuiditas tambahan bila tekanan berlanjut. Sementara itu, analis memperkirakan bahwa jika arus keluar tetap berkelanjutan, IHSG dapat menguji level support di 5.800 poin.
Secara keseluruhan, gabungan aksi jual asing yang masif dan sinyal negatif dari MSCI menciptakan tekanan signifikan pada pasar modal Indonesia. Pemain pasar disarankan untuk memperhatikan data arus modal harian serta kebijakan moneter sebagai acuan keputusan investasi ke depan.




