Frankenstein45.Com – 02 April 2026 | Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baru-baru ini menyerukan agar Indonesia menarik diri dari misi perdamaian (BOP) di Lebanon setelah seorang prajurit TNI tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh Israel.
Insiden tersebut terjadi pada tanggal ketika pasukan Israel menembakkan misil ke wilayah selatan Lebanon, menewaskan prajurit TNI yang tengah bertugas dalam United Nations Interim Force Lebanon (UNIFIL). Pribadi korban adalah seorang prajurit Angkatan Darat yang sedang melakukan patroli rutin.
Reaksi DPR cukup keras. Dalam rapat pleno, sejumlah wakil menyatakan bahwa Indonesia harus mengekspresikan kemarahan nasional serta mengecam tindakan Israel secara tegas. Mereka menuntut pemerintah untuk:
- Mengajukan protes resmi kepada PBB dan negara-negara terkait.
- Menarik semua personel TNI dari operasi BOP di Lebanon.
- Meningkatkan dukungan kemanusiaan bagi warga Lebanon yang terdampak.
Pernyataan tersebut mencerminkan keprihatinan publik terhadap risiko yang dihadapi pasukan perdamaian Indonesia di luar negeri. Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri diharapkan memberikan klarifikasi mengenai langkah selanjutnya, baik dalam hal kebijakan militer maupun diplomatik.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri menegaskan komitmen Indonesia untuk tetap mendukung resolusi damai di Timur Tengah, namun menekankan bahwa keselamatan personel TNI adalah prioritas utama. Pihak militer juga sedang melakukan investigasi internal untuk memastikan prosedur keamanan yang diterapkan selama penempatan di UNIFIL.
Jika Indonesia memutuskan untuk mundur, konsekuensinya dapat memengaruhi kontribusi negara dalam operasi perdamaian PBB serta menurunkan profil diplomatik Indonesia di kancah internasional. Namun, para pengkritik menilai bahwa keputusan tersebut wajar mengingat korban jiwa yang baru saja terjadi.




