Inflasi Sumsel Naik 0,61% pada Mei, Dipicu Kenaikan Harga Cabai dan Bawang
Inflasi Sumsel Naik 0,61% pada Mei, Dipicu Kenaikan Harga Cabai dan Bawang

Inflasi Sumsel Naik 0,61% pada Mei, Dipicu Kenaikan Harga Cabai dan Bawang

Frankenstein45.Com – 02 Juni 2026 | ANTARA – Pada bulan Mei 2024, inflasi harga barang dan jasa di Provinsi Sumatera Selatan tercatat sebesar 0,61 persen, naik dibandingkan dengan April yang hanya 0,34 persen. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh lonjakan harga komoditas pokok seperti cabai merah dan bawang merah.

Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel menunjukkan bahwa indeks harga konsumen (IHK) pada Mei meningkat 0,61 persen secara keseluruhan. Sektor makanan dan minuman menjadi kontributor utama dengan kontribusi hampir setengah dari total inflasi.

Bulan Inflasi (%) Kenaikan Harga Utama
April 2024 0,34 Cabai (2,1%), Bawang (1,8%)
Mei 2024 0,61 Cabai (7,4%), Bawang (5,9%)

Kenaikan harga cabai merah mencapai 7,4 persen, sementara bawang merah naik 5,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kedua komoditas ini merupakan bahan pokok dalam masakan harian masyarakat Sumsel, sehingga fluktuasi harga langsung dirasakan oleh konsumen.

  • Faktor cuaca: Curah hujan yang tidak merata di beberapa daerah penghasil cabai menyebabkan penurunan produksi.
  • Logistik: Biaya transportasi yang meningkat akibat harga bahan bakar yang naik menambah beban harga akhir.
  • Permintaan musiman: Peningkatan permintaan selama bulan Ramadan menjelang akhir Mei memperburuk tekanan pada pasokan.

Ekonom lokal memperingatkan bahwa jika tren kenaikan harga komoditas pokok berlanjut, inflasi keseluruhan dapat melampaui target yang ditetapkan pemerintah. Pemerintah provinsi telah menginstruksikan dinas terkait untuk meningkatkan koordinasi dengan petani dan pedagang guna menstabilkan pasokan dan menurunkan harga.

Pengamat pasar menilai bahwa upaya diversifikasi sumber pasokan cabai dan bawang, serta pemberian subsidi energi untuk transportasi, dapat menjadi solusi jangka pendek. Sementara itu, konsumen diharapkan menyesuaikan pola konsumsi dan memanfaatkan alternatif bahan makanan yang lebih terjangkau.

Secara keseluruhan, meski inflasi Sumsel masih berada di level yang relatif rendah dibandingkan wilayah lain, tekanan pada harga kebutuhan pokok tetap menjadi tantangan utama bagi rumah tangga berpendapatan menengah ke bawah.