Intip Saham yang Banyak Diborong Asing Saat IHSG Turun di Selasa (31/3)
Intip Saham yang Banyak Diborong Asing Saat IHSG Turun di Selasa (31/3)

Intip Saham yang Banyak Diborong Asing Saat IHSG Turun di Selasa (31/3)

Frankenstein45.Com – 06 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terjun ke zona merah pada sesi Selasa, 31 Maret 2026, setelah tiga bulan pertama tahun ini tercatat tekanan beruntun. Penurunan tersebut dipicu oleh gejolak harga minyak mentah yang menembus level US$110 per barel serta ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun pasar domestik tampak lesu, data transaksi menunjukkan adanya aksi beli signifikan dari investor asing yang menumpuk posisi di beberapa saham terpilih.

Sentimen Global dan Dampaknya pada IHSG

Pasar Asia Pasifik pada hari itu ditutup mayoritas di zona merah, dengan indeks Kospi Korea Selatan anjlok lebih dari 4 persen. Wall Street pun mencatat penurunan di sektor teknologi dan energi setelah Brent naik tajam. Di Indonesia, IHSG turun 0,88 persen menjadi 7.101 pada sesi pertama, menandai penurunan mingguan yang cukup tajam.

Para analis menilai bahwa tekanan global belum mereda dan pasar Indonesia masih rentan terhadap fluktuasi harga komoditas. Namun, mereka juga mengantisipasi potensi rebound bila sentimen luar negeri stabil, terutama bila IHSG berhasil menembus level support 7.105-7.140.

Langkah Asing: Saham yang Didorong Pembelian Besar

Data transaksi pada akhir sesi menunjukkan bahwa investor asing menumpuk posisi di beberapa saham yang sebelumnya berada dalam jajaran konsentrasi tinggi di Bursa Efek Indonesia. Daftar saham paling terkonsentrasi meliputi:

  • Bren (BREN) – perusahaan pertambangan batubara yang kini dikuasai oleh segelintir pemegang saham.
  • Rukun Listrik Co (RLCO) – perusahaan listrik swasta dengan eksposur pada energi terbarukan.
  • Duta Sekuritas Aset (DSSA) – lembaga keuangan yang fokus pada layanan sekuritas.
  • Agro Indonesia (AGII) – pemain utama dalam sektor agribisnis.

Investor asing tampaknya menganggap keempat saham tersebut sebagai peluang nilai undervalued, terutama di tengah penurunan harga secara umum. Pembelian masif mereka meningkatkan volume perdagangan harian, memberikan sinyal bahwa ada kepercayaan pada fundamental jangka panjang meski pasar sedang volatil.

Sektor yang Menarik Perhatian Asing

Selain saham-saham konsentrasi, sektor perbankan tetap menjadi magnet bagi modal asing. Saham-saham seperti BBCA, BBRI, BBTN, dan BRIS menunjukkan pergerakan positif meski indeks utama turun. Analis juga menyoroti saham energi dan material, termasuk GJTL, EXCL, dan MDKA, yang diprediksi akan menguji level 7.200 pada rebound selanjutnya.

Di sisi lain, saham teknologi dan konsumer tetap berada di bawah tekanan, sejalan dengan koreksi di pasar global. Namun, rekomendasi tetap mengarah pada saham yang memiliki fundamental kuat dan dividen stabil, seperti BBNI, BUMI, dan DEWA, yang diperkirakan dapat memberikan perlindungan nilai di tengah ketidakpastian.

Faktor-Faktor Pendukung Rebound

Beberapa katalis potensial dapat membantu IHSG bangkit kembali. Pertama, kebijakan moneter yang tetap akomodatif dari Bank Indonesia, yang menahan suku bunga dalam kisaran rendah untuk mendukung likuiditas. Kedua, ekspektasi peluncuran IPO baru, termasuk saham WBSA yang dijadwalkan pada April 2026, dapat menarik minat investor domestik dan asing.

Ketiga, pembagian dividen yang signifikan oleh perusahaan-perusahaan seperti Bank Danamon (BDMN), yang mengumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp 142,19 per saham, total sekitar Rp 1,4 triliun. Dividen besar ini meningkatkan daya tarik saham-saham yang sudah terdaftar bagi aliran dana asing yang mengincar imbal hasil tinggi.

Strategi Investor Menghadapi Kondisi Saat Ini

Investor yang ingin mengoptimalkan portofolio di tengah kondisi ini disarankan untuk:

  1. Mengamati level support kunci IHSG (7.105‑7.140) dan menyiapkan entry point di zona tersebut.
  2. Fokus pada saham dengan fundamental kuat dan histori dividend yield yang stabil.
  3. Mengalokasikan sebagian alokasi ke sektor-sektor yang mendapat dukungan aliran asing, seperti pertambangan batubara, energi terbarukan, dan perbankan.
  4. Menjaga likuiditas untuk memanfaatkan peluang beli pada koreksi mendadak.

Dengan menggabungkan analisis teknikal dan fundamental, investor dapat menavigasi volatilitas sementara sambil menyiapkan posisi untuk potensi rebound di kuartal kedua 2026.

Secara keseluruhan, meski IHSG berada dalam fase penurunan, aksi beli agresif oleh investor asing pada saham-saham terkoncentrasi menandakan adanya kepercayaan pada nilai jangka panjang pasar Indonesia. Jika faktor eksternal seperti harga minyak dan ketegangan geopolitik dapat mereda, pasar berpotensi menguji level 7.200 dalam waktu dekat, membuka peluang bagi investor yang siap menyesuaikan strategi.