Frankenstein45.Com – 17 Juni 2026 | Menlu Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Tehran memandang Israel sebagai pihak yang terikat dalam kesepakatan perdamaian yang sedang dibahas antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan tersebut disampaikan pada sebuah konferensi pers di Teheran, menekankan bahwa posisi Israel tidak dapat dipisahkan dari proses diplomatik yang melibatkan kedua negara besar tersebut.
Araghchi menambahkan bahwa Iran memandang hubungan Israel dengan Amerika Serikat sebagai bagian integral dari dinamika regional, serupa dengan posisi Hizbullah yang dianggap sebagai pihak terkait dalam negosiasi keamanan. Menurutnya, setiap kesepakatan yang melibatkan Amerika Serikat secara otomatis menimbulkan implikasi bagi Israel, mengingat peran strategis Israel di Timur Tengah.
Beberapa poin utama yang diungkapkan oleh menlu Iran antara lain:
- Israel tidak dapat mengabaikan hasil akhir dari kesepakatan damai antara AS dan Iran.
- Hubungan Iran dengan Hizbullah menjadi contoh bagaimana kelompok non‑negara dapat terikat secara tidak langsung dalam perjanjian internasional.
- Iran berharap semua pihak, termasuk Israel, menghormati kesepakatan yang akan dicapai demi stabilitas regional.
Pengakuan Iran atas keterikatan Israel ini muncul di tengah upaya diplomatik yang dipelopori oleh pemerintahan Presiden Joe Biden untuk meredakan ketegangan nuklir di kawasan. Meskipun belum ada perjanjian resmi yang ditandatangani, pernyataan Iran menandai perubahan sikap yang signifikan, mengingat sejarah hubungan yang tegang antara Tehran dan Tel Aviv.
Para pengamat menilai bahwa pernyataan tersebut dapat menjadi sinyal bagi Israel untuk lebih memperhatikan dinamika politik Amerika Serikat dalam merumuskan kebijakan luar negeri mereka. Jika kesepakatan damai tercapai, dampaknya kemungkinan akan memengaruhi keamanan, ekonomi, dan aliansi militer di Timur Tengah.




