Frankenstein45.Com – 03 Mei 2026 | Iran kembali menegaskan tuduhan terhadap Amerika Serikat dan Israel, menyatakan bahwa serangan militer yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah menimbulkan kerugian finansial mencapai US$270 miliar. Klaim tersebut muncul bersamaan dengan laporan tragis tentang 44 pelaut Iran yang tewas dalam serangan udara dan kapal di perairan Teluk Persia dan Selat Hormuh.
Kerugian Finansial yang Diklaim Iran
Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, menuduh Pentagon berbohong dengan mengumumkan kerugian hanya US$25 miliar. Menurut Araghchi, angka resmi tersebut jauh meremehkan beban sebenarnya. Ia memperkirakan kerugian langsung yang menimpa Amerika Serikat mencapai US$100 miliar, empat kali lipat dari perkiraan resmi. Selanjutnya, ia menambahkan bahwa biaya tidak langsung, termasuk beban pajak rumah tangga Amerika, dapat menggenjang hingga US$270 miliar bila seluruh dampak jangka panjang dihitung.
Berbagai analis independen mengonfirmasi adanya selisih besar antara angka resmi Pentagon dan perkiraan yang lebih luas. Laporan internal yang diungkapkan melalui tiga sumber anonim menyebutkan bahwa kerusakan pada pangkalan militer AS di wilayah Iran dapat menambah biaya hingga US$40‑50 miliar. Profesor Linda Bilmes dari Harvard Kennedy School menilai bahwa total biaya perang Iran dapat melampaui US$1 triliun jika faktor-faktor seperti penggantian aset, dukungan logistik, dan beban kesehatan mental dipertimbangkan.
Korban Sipil di Lautan Persia
Serikat Pelaut Niaga Iran melaporkan bahwa 44 pekerja—terdiri dari 22 pelaut sipil, 16 nelayan, dan 6 pekerja dermaga—menewaskan diri dalam rentang 28 Februari hingga 1 April 2026. Insiden terjadi akibat serangan udara dan artileri yang menargetkan pelabuhan serta armada komersial Iran. Selain korban tewas, 29 orang dilaporkan luka-luka dan sembilan orang masih hilang.
Serangan tersebut memicu blokade laut yang diterapkan Amerika Serikat pada 13 April, menahan sekitar 20 000 pelaut di Selat Hormuz. Blokade tersebut dimaksudkan untuk menekan ekspor minyak Iran, namun berdampak pada krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. Pelaut yang terperangkap melaporkan tekanan psikologis berat, kekurangan pasokan, dan ketidakpastian mengenai keselamatan mereka.
Reaksi Internasional dan Dampak Geopolitik
Pernyataan keras dari Iran menambah ketegangan diplomatik antara Tehran dan Washington. Araghchi menegaskan bahwa jika Amerika Serikat terus mendukung Israel, negara tersebut akan dimintai pertanggungjawaban atas semua kerugian yang dialami Iran, baik secara finansial maupun kemanusiaan.
Di sisi lain, Pentagon berusaha menjustifikasi angka $25 miliar sebagai estimasi konservatif, menyebut bahwa angka tersebut belum mencakup kerusakan infrastruktur militer yang luas. Pemerintah AS juga menegaskan bahwa blokade laut bertujuan mengendalikan eskalasi lebih lanjut, meskipun tekanan internasional menuntut penarikan pasukan dan pembukaan jalur laut.
Analisis Dampak Ekonomi
- Kerugian yang diakui secara resmi: US$25 miliar
- Perkiraan Iran (langsung): US$100 miliar
- Perkiraan total Iran (termasuk tidak langsung): US$270 miliar
- Estimasi akademis (jangka panjang): mendekati US$1 triliun
Jika angka-angka ini dipertimbangkan, beban fiskal pada pembayar pajak Amerika dapat mencapai ratusan dolar per rumah tangga, sementara ekonomi Iran menghadapi tekanan tambahan akibat kerusakan infrastruktur pelabuhan dan penurunan ekspor minyak.
Situasi di Selat Hormuz tetap tegang meskipun gencatan senjata yang diumumkan pada 8 April. Kedua belah pihak masih melakukan patroli militer, dan insiden kecil terus terjadi, meningkatkan risiko kembali ke konfrontasi terbuka.
Dengan biaya yang terus meningkat dan korban sipil yang bertambah, tekanan internasional untuk menemukan solusi diplomatik menjadi semakin mendesak. Semua pihak diharapkan dapat menurunkan intensitas konflik, membuka jalur laut, dan memulai dialog yang dapat mengurangi beban ekonomi serta mencegah tragedi kemanusiaan lebih lanjut.




