IRGC Luncurkan Gelombang ke-100 Serangan Rudal: Balasan Mengguncang AS & Israel serta Kenang Eks Pemimpin Hizbullah
IRGC Luncurkan Gelombang ke-100 Serangan Rudal: Balasan Mengguncang AS & Israel serta Kenang Eks Pemimpin Hizbullah

IRGC Luncurkan Gelombang ke-100 Serangan Rudal: Balasan Mengguncang AS & Israel serta Kenang Eks Pemimpin Hizbullah

Frankenstein45.Com – 23 April 2026 | Jakarta, 22 April 2026 – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan peluncuran gelombang ke-100 serangan rudal balistik, hipersonik, dan drone sebagai balasan atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Pengumuman tersebut sekaligus menjadi momen peringatan bagi mantan pemimpin Hizbullah, menandai titik balik strategis dalam konflik yang kini meluas di Timur Tengah.

Latar Belakang Serangan Amerika Serikat dan Israel

Pada 28 Februari 2026, pasukan gabungan AS‑Israel melakukan serangan udara besar‑besar terhadap sejumlah target strategis di Iran, termasuk fasilitas nuklir, rumah sakit, sekolah, bahkan sebuah sinagoga di Tehran. Serangan tersebut menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, serta menimbulkan kerusakan infrastruktur yang signifikan.

Respons militer Iran terjadi seketika. Angkatan bersenjata Iran meluncurkan serangkaian serangan balasan yang mencakup ratusan rudal balistik dan hipersonik serta drone yang menargetkan pangkalan militer AS di kawasan Teluk serta instalasi pertahanan Israel.

Gelombang ke‑100: Puncak Operasi Balasan IRGC

Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui portal presstv.ir pada Rabu, 22 April 2026, juru bicara IRGC Ibrahim Zolfaghari menegaskan kesiapan “menyuguhkan pukulan telak yang melampaui imajinasi musuh”. Ia menambahkan bahwa sistem “100 gelombang serangan” telah menimbulkan “kekosongan informasi dan kebingungan” di pihak lawan, memaksa mereka untuk mempertimbangkan gencatan senjata.

Menurut Zolfaghari, setiap gelombang serangan dirancang dengan kecepatan, ketepatan, dan daya hancur yang meningkat secara progresif. Gelombang ke‑100, yang dinamai “Operation Phoenix”, menargetkan pusat komando, fasilitas logistik, serta jaringan komunikasi militer Amerika Serikat dan Israel di wilayah Timur Tengah. Serangan tersebut diklaim berhasil menurunkan kemampuan operasional musuh secara signifikan.

Strategi dan Dampak Regional

  • Strategi kejutan berlapis: IRGC menggabungkan rudal balistik konvensional, rudal hipersonik, serta drone berkecepatan tinggi dalam satu paket serangan terkoordinasi.
  • Penggunaan sistem pertahanan siber: Selama gelombang, jaringan komunikasi musuh dilaporkan mengalami gangguan siber yang memperparah kebingungan di medan perang.
  • Pengaruh geopolitik: IRGC menyatakan bahwa serangan ini membuka “tatanan regional baru di Asia Barat” tanpa dominasi Amerika Serikat dan Israel.

Para analis militer menilai bahwa kemampuan Iran untuk meluncurkan serangkaian serangan berulang dalam skala besar menandakan peningkatan signifikan dalam kemampuan produksi dan penyimpanan amunisi strategis. Hal ini juga menegaskan pergeseran paradigma dari pertahanan konvensional menuju operasi “multi‑domain” yang melibatkan ruang siber dan udara tanpa awak.

Peringatan untuk Mantan Pemimpin Hizbullah

Serangkaian serangan ini juga dipergunakan IRGC sebagai bentuk penghormatan kepada mantan pemimpin Hizbullah yang telah lama menjadi sekutu strategis Tehran. Dalam pidatonya, Zolfaghari menyinggung “semangat perjuangan” sang tokoh, menegaskan bahwa solidaritas antara Iran dan gerakan perlawanan di Lebanon tetap kuat meski menghadapi tekanan eksternal.

Peringatan ini menambah dimensi ideologis pada operasi militer, menegaskan bahwa konflik tidak hanya bersifat teritorial melainkan juga simbolik, memperkuat narasi perlawanan melawan apa yang Iran sebut “rezim Zionis” dan “imperialisme Barat”.

Reaksi Internasional

Reaksi dunia beragam. Washington menolak mengakui keberhasilan serangan IRGC, menyebutnya sebagai “klaim propaganda”. Sementara Israel mengumumkan akan meningkatkan pertahanan udara dan menyiapkan operasi balasan selanjutnya. Di sisi lain, negara-negara non‑blok seperti Turki dan Qatar menyerukan dialog untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Perserikatan Bangsa‑Bangsa (PBB) mengeluarkan pernyataan meminta semua pihak menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Namun, dengan ketegangan yang semakin memuncak, peluang diplomasi tampak semakin sempit.

Secara keseluruhan, gelombang ke‑100 serangan rudal IRGC menandai titik kritis dalam dinamika konflik Timur Tengah. Jika serangan ini memang menghasilkan “kekosongan informasi” bagi musuh, maka konsekuensinya dapat berupa perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan, memaksa aktor global untuk menyesuaikan strategi mereka.

Dengan menyinggung warisan mantan pemimpin Hizbullah, Iran tidak hanya mengirimkan sinyal militer, tetapi juga menegaskan ikatan ideologis yang dapat memicu gelombang dukungan politik di wilayah yang lebih luas. Ke depan, dunia akan menantikan langkah selanjutnya, baik dari pihak Iran maupun koalisi barat, dalam upaya mengendalikan ketegangan yang kini berada di ambang pecah menjadi konflik terbuka yang lebih luas.