Frankenstein45.Com – 20 April 2026 | Jakarta, 20 April 2026 – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengembangkan bensin berbahan dasar minyak kelapa sawit (CPO) yang disebut biogasoline atau bensin sawit. Penandatanganan yang disaksikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berlangsung di Surabaya pada Minggu (19/4/2026) dan menandai langkah konkrit menuju kemandirian energi nasional.
Kolaborasi Riset‑Industri yang Terintegrasi
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari transformasi perusahaan untuk memperkuat bisnis hilir dan menyiapkan ekosistem zero‑waste di perkebunan. “Sinergi dengan ITS adalah langkah konkret PalmCo dalam mengintegrasikan riset teknologi ke dalam skala industri,” ujar Jatmiko. Sementara itu, Rektor ITS Prof. Dr. Bambang Pramujati menekankan pentingnya hilirisasi hasil riset agar dapat memberikan manfaat nyata bagi industri dan masyarakat.
Teknologi Bensin Sawit
Ketua Tim Peneliti ITS, Hosta Ardhyananta, menjelaskan bahwa inovasi fokus pada efisiensi konversi CPO menjadi bahan bakar yang dapat langsung dipakai pada mesin kendaraan konvensional. Produk yang dikembangkan mampu dicampur hingga 70% (E70) tanpa memerlukan modifikasi pada mesin. Hal ini diharapkan dapat menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengurangi emisi karbon.
- Rasio konversi CPO ke biogasoline: 1 liter CPO menghasilkan sekitar 0,85 liter bensin sawit.
- Emisi CO₂ berkurang hingga 30% dibandingkan bensin konvensional.
- Potensi penghematan impor bahan bakar fosil diproyeksikan mencapai 15% dalam lima tahun pertama.
Dukungan Pemerintah dan Rencana Implementasi
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya percepatan industrialisasi bensin sawit. “Jika produk ini berhasil 100% setelah uji coba, kami akan segera mengajukannya ke Presiden untuk distribusi nasional,” kata Amran. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah akan memfasilitasi proses paten dan regulasi agar inovasi dapat diproduksi secara massal.
Kerja sama direncanakan berlangsung selama lima tahun, dengan pembentukan tim kerja gabungan yang akan mengawal tahap riset, pilot plant, hingga komersialisasi. PTPN IV PalmCo akan menyediakan fasilitas perkebunan sebagai sumber bahan baku, sementara ITS akan menyumbangkan laboratorium, tenaga ahli, dan program magang bagi mahasiswa teknik kimia.
Implikasi Ekonomi dan Lingkungan
Menurut Menteri Pertanian, nilai ekonomi hilirisasi kelapa sawit dapat mencapai Rp10.000 triliun jika dikelola optimal dari hulu hingga hilir, mencakup produk turunan seperti minyak kelapa murni, susu kelapa, dan energi bio. Pengembangan bensin sawit tidak hanya membuka pasar domestik, tetapi juga berpotensi menembus pasar ekspor energi terbarukan.
Selain energi, kolaborasi juga mencakup pengembangan alat panjat kelapa (MOCITS) yang telah dipesan sebanyak 10 unit untuk meningkatkan keselamatan petani. Integrasi teknologi pertanian dan energi ini mencerminkan strategi terpadu pemerintah dalam mengoptimalkan seluruh rantai nilai kelapa sawit.
Dengan dukungan riset akademik, investasi industri, dan kebijakan pemerintah, bensin sawit diproyeksikan menjadi komoditas strategis yang dapat memperkuat ketahanan energi nasional. Langkah ini juga sejalan dengan target Indonesia mengurangi impor solar dan mencapai campuran B50 serta E20 pada dekade mendatang.
Keberhasilan proyek ini akan menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara perguruan tinggi, BUMN, dan regulator dapat menghasilkan inovasi berkelanjutan. Jika uji coba skala kecil menunjukkan hasil positif, rencana ekspansi ke pabrik industri berskala besar akan segera digulirkan, menandai era baru bagi energi terbarukan berbasis agrikultur di Indonesia.




