Frankenstein45.Com – 22 April 2026 | Gubernur Jambi, Al Haris, menegaskan komitmen provinsi untuk mencapai swasembada beras melalui sinergi antara pemerintah daerah, petani, dan masyarakat luas. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian pertemuan kerja sama yang dilaksanakan di Batang Hari, menandai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.
Target swasembada yang diusung Jambi adalah menghasilkan produksi beras yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi penduduk provinsi, yang diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta ton per tahun. Untuk mencapainya, pemerintah provinsi menetapkan beberapa sasaran utama:
- Meningkatkan luas tanam padi unggul hingga 150 ribu hektar pada akhir 2025.
- Mengoptimalkan produktivitas rata‑rata menjadi 6,5 ton per hektar melalui penggunaan bibit berkualitas, pupuk tepat guna, dan teknologi pertanian modern.
- Mengembangkan jaringan distribusi yang efisien agar hasil panen dapat tersalurkan ke pasar lokal dan regional tanpa penurunan kualitas.
Strategi kolaboratif yang diusung mencakup tiga pilar utama:
- Pemerintah: Penyediaan fasilitas irigasi, subsidi bibit dan pupuk, serta pelatihan teknis bagi petani melalui Dinas Pertanian dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
- Petani: Penerapan praktik pertanian berkelanjutan, adopsi varietas padi tahan hama, serta partisipasi dalam program kemitraan hasil panen (outcome‑based partnership).
- Masyarakat: Dukungan dalam bentuk pembelian beras lokal, partisipasi dalam kelompok tani, serta peran serta dalam program edukasi gizi dan pengolahan pasca‑panen.
Gubernur Al Haris menambahkan bahwa pemerintah provinsi telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 1,2 triliun untuk fase awal program, yang akan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur irigasi, penyediaan sarana penyimpanan (gudang), serta pengembangan platform digital untuk pemantauan produksi secara real‑time.
Selain itu, Jambi berencana berkolaborasi dengan institusi riset pertanian nasional untuk melakukan uji coba varietas padi baru yang memiliki toleransi terhadap perubahan iklim. Diharapkan, inovasi ini dapat meningkatkan ketahanan produksi menghadapi tantangan cuaca ekstrem.
Para pemangku kepentingan mengakui adanya tantangan, antara lain ketersediaan lahan yang bersaing dengan kegiatan perkebunan, serta kebutuhan akan tenaga kerja terampil. Namun, melalui program pelatihan vokasi pertanian dan insentif bagi petani muda, pemerintah berharap dapat menarik generasi baru untuk terlibat dalam sektor pertanian.
Jika target tercapai, Jambi tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada beras impor, tetapi juga berpotensi menjadi pemasok utama bagi provinsi‑provinsi tetangga. Keberhasilan program ini diharapkan menjadi contoh model kolaboratif yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia.




