Jerman Desak China Tekan Iran Bebaskan Selat Hormuz: Dampak pada Pasar Energi Global
Jerman Desak China Tekan Iran Bebaskan Selat Hormuz: Dampak pada Pasar Energi Global

Jerman Desak China Tekan Iran Bebaskan Selat Hormuz: Dampak pada Pasar Energi Global

Frankenstein45.Com – 12 April 2026 | Berlin menegaskan kembali peranannya dalam diplomasi energi dengan meminta Republik Rakyat China memanfaatkan pengaruhnya terhadap Tehran demi membuka kembali Selat Hormuz yang kini dikuasai Iran setelah konflik bersenjata dengan Amerika Serikat. Permintaan ini muncul bersamaan dengan lonjakan kapal perdagangan yang melintasi selat, terutama armada kapal kargo dan tanker asal China, yang berusaha menjaga aliran minyak dunia tetap stabil.

Sejak dimulainya perundingan damai antara AS dan Iran di Islamabad pada 11 April 2026, lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali meningkat. Data dari situs pelacakan MarineTraffic menunjukkan bahwa lebih dari seratus kapal per hari, termasuk dua tanker mentah masing-masing berkapasitas 300.000 ton, sedang bergerak mendekati perairan Iran. Meskipun jumlah kapal masih lebih rendah dibandingkan periode sebelum konflik, kehadiran armada China menandakan upaya mempertahankan pasokan energi global.

Iran Mengendalikan Jalur Strategis

Setelah serangkaian serangan gabungan yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel, Iran mengambil alih kontrol penuh atas Selat Hormuz, jalur yang menyalurkan sekitar 20 persen produksi minyak dunia. Tehran mengumumkan kebijakan “tarif tol” bagi kapal yang melintasi selat, menagih biaya hingga dua juta dolar per tanker, yang dapat dibayar melalui aset kripto atau yuan China melalui sistem pembayaran lintas batas CIPS milik Beijing. Kebijakan ini bertujuan menghindari sanksi Barat dan memanfaatkan jaringan keuangan China yang relatif terlepas dari sistem SWIFT.

Penggunaan aset digital dan yuan memperkuat posisi Iran dalam negosiasi, karena pembayaran dapat diproses cepat dan sulit dilacak oleh otoritas internasional. Menurut perusahaan riset kripto TRM, sebagian besar pembayaran tol diteruskan lewat Bank of Kunlun, menandakan keterlibatan langsung sistem keuangan China dalam mendukung operasi Iran di Selat Hormuz.

Tekanan Jerman dan Peran China

Jerman, sebagai salah satu konsumen energi terbesar di Eropa, menilai keberlanjutan aliran minyak melalui Hormuz krusial bagi stabilitas ekonomi regional. Kementerian Luar Negeri Jerman secara resmi meminta Beijing untuk menggunakan hubungannya dengan Tehran guna menekan Iran membuka kembali jalur pelayaran. Diplomat Jerman menekankan bahwa kebebasan navigasi di Selat Hormuz bukan hanya kepentingan regional, melainkan isu keamanan maritim internasional yang mempengaruhi pasar energi global.

Pejabat China, yang secara tradisional menghindari campur tangan langsung dalam konflik Timur Tengah, kini berada di persimpangan kepentingan geopolitik. Beijing telah menyediakan dukungan logistik dan keuangan bagi Iran, termasuk penyediaan yuan untuk transaksi tol. Namun, permintaan Jerman menambah dimensi baru, memaksa China menyeimbangkan antara mempertahankan kemitraan strategis dengan Tehran dan menjaga hubungan baik dengan Uni Eropa.

Dampak pada Harga Energi dan Ekonomi Global

Penutupan atau pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz berdampak signifikan pada harga bahan bakar dunia. Di Amerika Serikat, harga bensin telah melonjak sekitar 40 persen sejak Februari 2026, sementara pasar Asia dan Eropa mengalami tekanan harga yang serupa. Analisis para pakar energi menunjukkan bahwa setiap gangguan tambahan di selat dapat menambah volatilitas harga minyak mentah hingga dua puluh persen dalam beberapa minggu.

Para operator pelayaran melaporkan bahwa biaya operasional meningkat tajam karena kebutuhan membayar tol, mengamankan rute alternatif, serta mengantisipasi potensi serangan militer. Hal ini pada gilirannya meningkatkan biaya logistik bagi produsen barang dan konsumen akhir.

Prospek Negosiasi dan Langkah Selanjutnya

Negosiasi langsung antara AS dan Iran di Islamabad masih berlangsung, dengan tekanan diplomatik yang intens dari pihak-pihak Barat termasuk Jerman. Jika China dapat memediasi kesepakatan yang memungkinkan Iran mengurangi tarif tol atau membuka kembali selat secara parsial, kemungkinan besar pasar energi akan kembali menstabilkan diri.

Namun, risiko tetap tinggi. Iran menegaskan bahwa kontrol atas Selat Hormuz adalah alat tawar yang penting, dan tidak akan mengorbankan posisi strategisnya tanpa jaminan penghapusan sanksi ekonomi secara menyeluruh. Sementara itu, Jerman terus menyoroti pentingnya kebebasan navigasi sebagai prinsip hukum laut internasional, dan siap meningkatkan tekanan diplomatik bila diperlukan.

Dengan dinamika geopolitik yang terus berubah, peran China sebagai mediator potensial akan menjadi faktor kunci dalam menentukan apakah Selat Hormuz dapat kembali berfungsi sebagai jalur perdagangan utama atau tetap menjadi arena persaingan kekuatan besar.