John Herdman Bela Ramadhan Sananta: Lebih dari Sekadar Gol, Kunci Strategi Garuda di Final FIFA Series 2026
John Herdman Bela Ramadhan Sananta: Lebih dari Sekadar Gol, Kunci Strategi Garuda di Final FIFA Series 2026

John Herdman Bela Ramadhan Sananta: Lebih dari Sekadar Gol, Kunci Strategi Garuda di Final FIFA Series 2026

Frankenstein45.Com – 31 Maret 2026 | Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, menegaskan kembali pentingnya peran penyerang muda Ramadhan Sananta menjelang final FIFA Series 2026. Meski Sananta belum mencetak gol pada pertandingan pembukaan melawan Saint Kitts and Nevis, sang pelatih menyoroti kontribusi tak terlihat yang dianggap krusial dalam skema permainan Garuda.

Peran Sananta di Lini Depan

Dalam laga 4-0 melawan Saint Kitts and Nevis di Stadion Gelora Bung Karno, Sananta tampil selama 72 menit tanpa menemukan jaring lawan. Namun, Herdman menjelaskan bahwa pergerakan tanpa bola, tekanan pertama (pressing), dan kemampuan menarik lini belakang lawan menjadi aset tak ternilai bagi tim. “Dia adalah pemain yang mampu membuka ruang bagi rekan-rekannya seperti Ole Romeny, Ragnar Oratmangoen, dan Beckham Putra,” ujar Herdman di Stadion Madya pada Minggu, 29 Maret 2026.

Herdman bahkan membandingkan gaya bermain Sananta dengan striker Prancis Olivier Giroud, yang dikenal mampu memberi kontribusi signifikan meski tak selalu mencetak gol. “Giroud pernah tidak mencetak gol di Piala Dunia 2018, namun perannya tetap dihargai karena ia menciptakan peluang dan menahan pertahanan lawan,” kata Herdman. Analogi ini ditekankan untuk mengubah persepsi publik yang selama ini menilai striker semata dari angka gol.

Kritik Netizen dan Balasan Pelatih

Setelah kemenangan melawan Saint Kitts and Nevis, Sananta menjadi sorotan keras di media sosial. Beberapa warganet menilai penampilannya tidak efektif karena tidak mencetak gol. Herdman menilai kritik tersebut berlebihan dan mengingatkan bahwa standar penilaian harus lebih holistik. “Kita harus menjadi bangsa yang lebih baik, bukan sekadar menghitung angka di papan skor,” tegasnya.

Di luar lapangan, Sananta juga bermain untuk DPMM FC di Liga Malaysia, mencatat empat gol dan dua assist pada musim ini. Statistik klub menegaskan bahwa ia memiliki kemampuan finishing, namun peran di Timnas menuntut fungsi berbeda yang lebih menitikberatkan pada taktik tim.

Strategi Final vs Bulgaria

Garuda dijadwalkan bertemu Bulgaria pada Senin, 30 Maret 2026, di final FIFA Series 2026. Formasi yang dipilih Herdman adalah 3‑4‑3, menempatkan Ole Romeny, Ragnar Oratmangoen, dan Ramadhan Sananta sebagai tiga penyerang utama. Pada menit ke‑38, Bulgaria unggul lewat penalti Marin Petkov, memaksa Indonesia untuk mengejar gol.

Meski Sananta kembali menjadi starter, tekanan dari lawan membuatnya kurang berpengaruh pada babak pertama. Pada babak kedua, Herdman melakukan pergantian dengan gelandang Ivar Jenner, menandakan fleksibilitas taktik Indonesia. Perubahan ini menunjukkan bahwa peran Sananta tetap dianggap penting, namun pelatih siap menyesuaikan bila diperlukan.

Harapan Herdman terhadap Dukungan Publik

John Herdman menutup pernyataannya dengan harapan agar suporter Indonesia dapat lebih memahami kontribusi Sananta. “Saya berharap para pendukung tetap memberikan dukungan penuh dan menghargai kerja kerasnya,” ujar Herdman. Ia menambahkan bahwa mentalitas tim, termasuk kemampuan menekan lawan sejak menit awal, menjadi faktor penentu dalam pertandingan melawan tim Eropa yang lebih berpengalaman.

Dengan strategi yang menitikberatkan pada gerakan tanpa bola, tekanan tinggi, dan kolaborasi antar lini, Sananta diprediksi akan terus menjadi elemen penting dalam taktik Garuda, baik sebagai starter maupun alternatif pada babak kedua.

Kesimpulannya, meskipun sorotan publik masih terfokus pada angka gol, peran Ramadhan Sananta di lapangan melampaui statistik konvensional. Dukungan pelatih, pemahaman taktik, dan fleksibilitas formasi menjadi kunci bagi Indonesia untuk mengoptimalkan peluang meraih trofi pada final FIFA Series 2026.