Kapal Pertamina Terperangkap di Selat Hormuz, DPR Desak Prabowo Segera Temui Pemimpin Iran di Tengah Krisis Energi Global
Kapal Pertamina Terperangkap di Selat Hormuz, DPR Desak Prabowo Segera Temui Pemimpin Iran di Tengah Krisis Energi Global

Kapal Pertamina Terperangkap di Selat Hormuz, DPR Desak Prabowo Segera Temui Pemimpin Iran di Tengah Krisis Energi Global

Frankenstein45.Com – 03 April 2026 | Selat Hormuz, jalur penyeluruhan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, kembali menjadi sorotan dunia setelah dua kapal tanker milik Pertamina—Pertamina Pride dan Gamsunoro—masih terdampar di perairan tersebut. Kendala ini muncul bersamaan dengan ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, serta menambah tekanan pada krisis energi global yang diproyeksikan lebih parah daripada krisis minyak tahun 1970-an.

Posisi dan Status Kapal Pertamina

Kapal tanker raksasa Pertamina Pride, yang dibangun pada tahun 2021, berada sekitar 26,6 mil laut (49,2 km) di sebelah timur laut dermaga Ras Tanura, Arab Saudi. Kapal ini telah berlabuh sejak sekitar dua belas hari yang lalu dan semula dijadwalkan tiba di Pelabuhan Cilacap pada 2 April 2026 pukul 09.00 WIB. Sementara itu, tanker Gamsunoro, berusia hampir dua dekade dan berangkat dari Basrah Oil Terminal, Irak, kini berada 28,8 mil laut (53,3 km) barat daya Dubai, Uni Emirat Arab, dengan status “for orders”.

Kedua kapal tersebut tertahan akibat penerapan sistem “Toll Booth” yang dipaksakan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Sistem ini menuntut kapal untuk menghubungi perantara IRGC, menyerahkan data sensitif seperti nomor IMO, dokumen kargo, dan daftar kru, serta membayar bea sebagai jaminan keamanan sebelum diberikan kode klirens dan rute khusus.

Dampak Geopolitik dan Respons Pemerintah

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, telah menerima sinyal positif dari Kedutaan Besar Iran di Jakarta mengenai izin perlintasan kapal Pertamina. Namun, Yvonne Mewengkang, juru bicara Kementerian Luar Negeri, menekankan bahwa Pertamina perlu menyiapkan aspek teknis, asuransi, dan kesiapan kru sebelum izin dapat diimplementasikan.

Parlemen Indonesia (DPR) menanggapi situasi ini dengan mengajukan permohonan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengadakan pertemuan dengan pemimpin Iran. DPR menilai bahwa dialog tingkat tinggi dapat mempercepat proses klarifikasi dan mengurangi risiko penahanan lebih lanjut, terutama mengingat peran strategis Indonesia dalam pasokan energi domestik.

Krisis Energi 2026: Lebih Mengguncang daripada 1970-an

Penutupan Selat Hormuz selama lebih dari satu bulan telah memotong pasokan antara 13 hingga 20 juta barel minyak per hari, setara dengan seperlima kebutuhan dunia. Pakar energi internasional, termasuk Lars Jensen (mantan direktur Maersk) dan Fatih Birol (Direktur IEA), memperingatkan bahwa dampak krisis ini melampaui inflasi dan resesi yang dialami pada tahun 1970-an.

Harga minyak mentah telah menembus US$100 per barel, sementara stok minyak yang telah dikirim sebelum penutupan diperkirakan akan habis dalam hitungan minggu. Dr. Tiarnán Heaney dari Queen’s University Belfast menambahkan bahwa krisis ini dapat memicu inflasi energi tinggi selama enam hingga dua belas bulan bahkan setelah jalur pelayaran dibuka kembali.

Implikasi bagi Indonesia

Indonesia, sebagai salah satu konsumen minyak terbesar di Asia Tenggara, merasakan dampak langsung berupa kenaikan harga BBM dan potensi gangguan pasokan. Pemerintah telah mengaktifkan langkah-langkah darurat, termasuk pengalihan impor minyak melalui jalur alternatif dan peningkatan cadangan strategis nasional.

Selain itu, DPR menekankan pentingnya memperkuat diplomasi maritim Indonesia, baik melalui dialog bilateral dengan Iran maupun koordinasi multinasional bersama negara-negara konsumen energi lainnya. Upaya ini diharapkan dapat membuka ruang negosiasi untuk mengurangi beban biaya “toll booth” dan memastikan kelancaran pergerakan kapal tanker di masa depan.

Secara keseluruhan, situasi di Selat Hormuz menegaskan betapa rapuhnya rantai pasokan energi global ketika jalur pelayaran utama terhambat oleh konflik geopolitik. Keberhasilan Indonesia dalam menavigasi krisis ini akan sangat bergantung pada kemampuan diplomasi tinggi, kesiapan teknis perusahaan pelayaran, dan koordinasi lintas lembaga pemerintah.

Dengan tekanan internasional yang terus meningkat, langkah cepat Prabowo Subianto untuk bertemu dengan pemimpin Iran dapat menjadi katalisator penting dalam mengurai kebuntuan, sekaligus memberikan sinyal bahwa Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas energi nasional dan regional.