Frankenstein45.Com – 10 Juni 2026 | Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti keluhan orang tua terkait proses Pemetaan Calon Murid (KDM) yang kini dijadikan indikator awal bagi Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) tahun 2026. Menurutnya, data pemetaan ini dapat membantu sekolah dan perguruan tinggi mengidentifikasi potensi penurunan jumlah pendaftar lebih awal, sehingga dapat diambil langkah preventif.
KDM merupakan survei berbasis digital yang mengumpulkan informasi demografis, minat belajar, serta aspirasi akademik siswa SMA/SMK di seluruh Jawa Barat. Data yang terkumpul kemudian diolah secara statistik untuk menghasilkan prediksi tren pendaftaran SPMB dalam jangka menengah.
Beberapa poin penting yang diungkapkan dalam pertemuan tersebut antara lain:
- Data KDM akan menjadi acuan awal bagi institusi pendidikan dalam menyesuaikan kuota dan program studi yang ditawarkan.
- Orang tua dapat memantau progres pendidikan anak secara real time melalui portal resmi KDM.
- Jika terdapat penurunan signifikan pada jumlah calon pendaftar di suatu wilayah, pihak berwenang dapat mengaktifkan program beasiswa atau kampanye informasi untuk mengatasi potensi penurunan tersebut.
Gubernur menekankan pentingnya kolaborasi antara Dinas Pendidikan, institusi tinggi, dan pihak swasta dalam mengoptimalkan manfaat KDM. Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan sistem ini sangat tergantung pada partisipasi aktif semua pemangku kepentingan, termasuk siswa, orang tua, dan guru.
Implementasi penuh KDM dijadwalkan mulai kuartal pertama 2025, dengan fase pilot di tiga kabupaten terpilih. Hasil evaluasi pilot akan menjadi dasar penyesuaian sebelum peluncuran nasional pada awal 2026.
Dengan adanya alarm dini ini, diharapkan SPMB 2026 dapat berjalan lebih efisien, mengurangi tingkat kekosongan program studi, dan memberikan kesempatan lebih adil bagi calon mahasiswa di seluruh Jawa Barat.




