Frankenstein45.Com – 12 Mei 2026 | Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengumumkan bahwa Taman Nasional (TN) Gunung Ciremai akan dijadikan contoh utama dalam upaya integrasi Forest and Land Use (FOLU) untuk mencapai target net sink karbon pada tahun 2030.
Model integrasi ini mencakup tiga pilar utama: restorasi hutan, pengelolaan lahan berkelanjutan, serta pelibatan masyarakat lokal dalam kegiatan konservasi.
- Restorasi hutan: Penanaman kembali 10.000 hektar lahan terdegradasi dengan spesies asli, serta rehabilitasi daerah aliran sungai untuk meningkatkan kapasitas penyerapan karbon.
- Pengelolaan lahan berkelanjutan: Penerapan agroforestry di zona buffer, pemanfaatan praktik pertanian organik, dan pengendalian kebakaran hutan secara preventif.
- Pelibatan masyarakat: Program pemberdayaan warga setempat melalui pelatihan pengelolaan hutan berbasis masyarakat (community based forest management) dan skema pembagian hasil karbon.
Target kuantitatif yang ingin dicapai antara 2024‑2030 meliputi:
| Tahun | Penurunan Emisi (MtCO₂e) | Peningkatan Penyimpanan Karbon (MtCO₂e) |
|---|---|---|
| 2024 | 0,5 | 0,8 |
| 2026 | 1,2 | 1,5 |
| 2030 | 2,5 | 3,0 |
Selain itu, Kemenhut berkoordinasi dengan kementerian lain serta lembaga internasional untuk memastikan standar pengukuran karbon yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Diharapkan, keberhasilan model di TN Gunung Ciremai dapat direplikasi ke taman nasional lain di Indonesia, memperkuat kontribusi negara dalam agenda perubahan iklim global.




