Kementan Bongkar Ratoon 300 Ribu Hektare, Percepat Swasembada Gula
Kementan Bongkar Ratoon 300 Ribu Hektare, Percepat Swasembada Gula

Kementan Bongkar Ratoon 300 Ribu Hektare, Percepat Swasembada Gula

Frankenstein45.Com – 09 April 2026 | Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada Rabu, 8 April 2024, menyampaikan rencana ambisius Kementerian Pertanian untuk membongkar sistem ratoon pada lahan seluas 300 ribu hektare. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pencapaian swasembada gula Indonesia dalam jangka menengah.

Ratoon merupakan metode perpanjangan masa panen tebu dengan memanen batang kedua atau ketiga tanpa mengganti tanaman secara total. Meskipun mengurangi biaya operasional, sistem ini menurunkan produktivitas per hektar dan menambah ketergantungan pada impor gula. Pemerintah menilai bahwa penggantian ratoon dengan penanaman ulang (replanting) secara penuh akan meningkatkan hasil tebu per hektar secara signifikan.

Berikut poin utama dari kebijakan baru tersebut:

  • Target penanaman ulang seluas 300.000 hektare selama tiga tahun ke depan.
  • Peningkatan produktivitas tebu diharapkan mencapai 80-90 ton per hektare, naik dari rata-rata 70 ton pada sistem ratoon.
  • Pengurangan impor gula sebesar 15-20 ribu ton per tahun pada akhir periode implementasi.
  • Peningkatan pendapatan petani melalui subsidi bibit unggul, pupuk, serta pelatihan teknik agronomi modern.

Untuk memonitor pelaksanaan, Kementan membentuk tim khusus yang bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) serta lembaga keuangan pertanian. Tim ini akan menilai kelayakan lahan, menyediakan paket bantuan teknis, serta mengawasi kepatuhan petani terhadap jadwal penanaman ulang.

Data proyeksi produksi dan impor gula setelah implementasi kebijakan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tahun Produksi Gula Nasional (ribuan ton) Impor Gula (ribuan ton) Defisit/Surplus (ribuan ton)
2024 2.300 1.200 -1.100
2025 2.500 1.000 -1.500
2026 2.800 800 -2.000

Dengan peningkatan produksi, pemerintah menargetkan swasembada gula pada akhir 2026, artinya kebutuhan domestik dapat terpenuhi tanpa mengandalkan impor secara signifikan.

Para petani diharapkan dapat memanfaatkan program ini melalui mekanisme hibah dan kredit lunak yang akan disalurkan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Indonesia. Selain itu, pelatihan intensif tentang manajemen lahan, penggunaan varietas tebu unggul, dan praktik pertanian berkelanjutan akan diberikan secara gratis di sejumlah daerah produksi utama seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan.

Secara keseluruhan, kebijakan pembongkaran ratoon 300 ribu hektare menjadi tonggak penting dalam upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta menurunkan defisit perdagangan gula Indonesia.