Frankenstein45.Com – 19 Juni 2026 | Ekonom senior Indef menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75 persen merupakan sinyal kuat bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum berkurang. Kenaikan tersebut merupakan langkah lanjutan setelah serangkaian penyesuaian kebijakan moneter yang dimaksudkan menahan laju inflasi yang masih berada di atas target.
Berikut ini rangkuman perubahan BI Rate dan indikator terkait dalam tiga bulan terakhir:
| Bulan | BI Rate (%) | Inflasi YoY (%) | Kurs Rupiah (IDR/USD) |
|---|---|---|---|
| Januari | 5,50 | 4,8 | 14.800 |
| Februari | 5,50 | 5,0 | 14.950 |
| Maret | 5,75 | 5,3 | 15.100 |
Data di atas menunjukkan bahwa meskipun suku bunga naik, nilai tukar rupiah masih mengalami depresiasi ringan terhadap dolar AS. Hal ini menegaskan bahwa tekanan eksternal, terutama kebijakan moneter Federal Reserve, masih berpengaruh signifikan.
Indef juga menyoroti bahwa kebijakan suku bunga tunggal tidak cukup untuk menurunkan inflasi secara substansial. Diperlukan sinergi antara kebijakan fiskal, peningkatan produktivitas, dan penanganan bottleneck pasokan untuk mengurangi tekanan harga.
Ke depannya, Indef memperkirakan BI akan tetap berhati-hati dalam menyesuaikan suku bunga. Jika inflasi berhasil dipertahankan di bawah 5 persen selama beberapa kuartal, kemungkinan penurunan suku bunga dapat dipertimbangkan. Namun, selama tekanan nilai tukar tetap tinggi, kebijakan moneter yang ketat diperkirakan akan tetap menjadi prioritas.




