Kepala BGN Klarifikasi Soal Intervensi Formula Bayi dalam Program MBG: Hanya untuk Kasus Tertentu
Kepala BGN Klarifikasi Soal Intervensi Formula Bayi dalam Program MBG: Hanya untuk Kasus Tertentu

Kepala BGN Klarifikasi Soal Intervensi Formula Bayi dalam Program MBG: Hanya untuk Kasus Tertentu

Frankenstein45.Com – 22 Mei 2026 | Jawa Pos, 26 Mei 2022 – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan penjelasan resmi terkait kebijakan intervensi penggunaan susu formula pada Program Masyarakat Berdaya Gizi (MBG). Menurutnya, intervensi tersebut tidak bersifat umum, melainkan ditujukan hanya untuk kasus‑kasus tertentu yang telah memenuhi kriteria medis yang ketat.

Dalam konferensi pers yang diadakan di Jakarta, Kepala BGN menegaskan bahwa tujuan utama program MBG tetap melindungi dan mempromosikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Kebijakan pemberian formula bayi hanya diterapkan apabila terdapat indikasi klinis yang jelas, seperti bayi yang tidak dapat memperoleh ASI karena kondisi kesehatan ibu atau bayi, atau ketika pertumbuhan bayi tidak tercapai meskipun telah diberikan ASI secara optimal.

Berikut poin‑poin penting yang disampaikan:

  • Kriteria medis spesifik: Bayi dengan berat badan lahir sangat rendah (BBLR), bayi prematur, atau bayi dengan kelainan kongenital yang mengganggu proses menyusui.
  • Prosedur evaluasi: Setiap kasus harus diverifikasi oleh tim medis BGN dan dokter anak yang berwenang sebelum formula diberikan.
  • Pembatasan penggunaan: Formula diberikan dalam jumlah terbatas dan hanya selama periode yang diperlukan, sambil terus mendorong ibu untuk kembali menyusui secara eksklusif secepat mungkin.

Penjelasan ini muncul setelah munculnya spekulasi publik bahwa pemerintah akan memfasilitasi penggunaan susu formula secara luas dalam rangka meningkatkan angka gizi anak. Kepala BGN menolak anggapan tersebut dan menekankan bahwa kebijakan tersebut tidak bertentangan dengan upaya meningkatkan tingkat ASI eksklusif nasional, yang saat ini masih berada di bawah target.

Selain itu, BGN juga mengumumkan langkah-langkah pendukung berikut untuk memperkuat program ASI eksklusif:

  1. Pelatihan lanjutan bagi tenaga kesehatan di posyandu dan puskesmas mengenai teknik menyusui yang benar.
  2. Penyediaan konseling gizi bagi ibu hamil dan menyusui secara gratis.
  3. Peningkatan kampanye edukasi publik melalui media sosial dan program televisi nasional.

Reaksi dari kalangan profesional kesehatan cukup positif. Banyak pakar gizi menilai bahwa pendekatan yang selektif ini dapat mencegah penyalahgunaan formula sekaligus memberikan solusi bagi bayi yang memang memerlukan dukungan tambahan. Namun, mereka juga mengingatkan pentingnya monitoring yang ketat untuk memastikan bahwa intervensi tidak berkembang menjadi praktik rutin yang mengurangi motivasi ibu untuk menyusui.

Dengan klarifikasi ini, diharapkan masyarakat dapat memahami bahwa intervensi formula dalam Program MBG merupakan langkah terukur yang diarahkan pada kasus‑kasus khusus, bukan kebijakan umum yang menggantikan ASI eksklusif.