Frankenstein45.Com – 04 April 2026 | Jalan raya lintas selat Bali yang menghubungkan Ketapang, Jawa Barat, dan Gilimanuk, Bali, kembali mengalami kemacetan parah yang meluas hingga 15 kilometer. Kemacetan ini terjadi pada sore hari, memaksa ribuan kendaraan, termasuk kendaraan pribadi, bus, dan truk, terhenti dalam antrean panjang.
Situasi tersebut menimbulkan kerugian ekonomi signifikan, terutama bagi pengusaha logistik dan para pelancong yang harus menunda jadwal perjalanan. Warga setempat melaporkan bahwa antrian ini menyebabkan keterlambatan pengiriman barang, peningkatan biaya bahan bakar, serta menurunkan produktivitas.
Komisi V DPR RI, yang membidangi bidang transportasi dan infrastruktur, menyampaikan keprihatinannya melalui rapat koordinasi. Anggotanya menuntut pemerintah pusat dan daerah segera merumuskan solusi konkret untuk mengurangi kemacetan yang telah berlangsung lama.
Berbagai usulan telah diajukan, antara lain:
- Penambahan dermaga penyeberangan di Pelabuhan Ketapang untuk meningkatkan kapasitas kapal feri.
- Penerapan sistem reservasi tiket secara daring guna mengatur alur kendaraan dan penumpang secara lebih efisien.
- Pengembangan jalur alternatif darat dan laut yang dapat menyalurkan sebagian lalu lintas ke rute lain.
- Peningkatan frekuensi kapal feri selama jam sibuk, khususnya pada sore hingga malam hari.
Komisi V menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut harus dilaksanakan dalam jangka pendek, dengan target perbaikan yang terlihat dalam tiga bulan ke depan. Mereka juga menuntut adanya pengawasan ketat terhadap pelaksanaan rencana, serta laporan berkala kepada DPR.
Pemerintah Provinsi Bali dan Jawa Barat diharapkan dapat berkoordinasi dengan otoritas pelabuhan serta operator feri untuk mempercepat proses pembangunan dermaga baru. Selain itu, integrasi sistem reservasi tiket dengan aplikasi transportasi yang sudah ada di pasar diharapkan dapat mempermudah akses bagi pengguna.
Jika solusi ini diimplementasikan dengan tepat, diperkirakan kemacetan dapat berkurang drastis, menurunkan biaya operasional, serta meningkatkan kepuasan pengguna lintas selat. Hal ini juga berpotensi memperkuat konektivitas antar pulau, mendukung pertumbuhan ekonomi regional, dan meningkatkan daya saing sektor pariwisata.




