Frankenstein45.Com – 03 April 2026 | Koalisi internasional yang diprakarsai oleh Inggris untuk menekan Iran membuka Selat Hormuz kini mencakup 40 negara, meningkat signifikan sejak inisiatif pertama dibentuk pada awal tahun 2024.
Koalisi tersebut terdiri atas negara‑negara Eropa, Amerika Utara, serta sejumlah negara di Asia dan Afrika yang menilai penutupan selat sebagai ancaman serius terhadap jalur perdagangan minyak dunia. Anggota baru meliputi Belgia, Denmark, Norwegia, Finlandia, Kanada, Australia, Selandia Baru, Kenya, Nigeria, serta beberapa negara Teluk lainnya.
Tujuan utama koalisi adalah memaksa Iran membuka kembali selat melalui tekanan diplomatik dan ekonomi, sambil menyiapkan kesiapan militer sekadar sebagai pencegah. Namun, upaya militer terbuka mendapat penolakan tegas dari beberapa pemimpin dunia.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menegaskan bahwa penggunaan operasi militer untuk memaksa Iran membuka Selat Hormuz adalah hal yang mustahil dan berisiko menimbulkan eskalasi konflik. Menurutnya, satu‑satunya jalan yang realistis adalah melalui dialog langsung dengan Tehran.
Macron menambahkan bahwa dialog harus mencakup jaminan keamanan bagi kapal‑kapal dagang serta mekanisme verifikasi yang dapat diterima oleh semua pihak. Ia mengajak negara‑anggota koalisi untuk menurunkan retorika konfrontatif dan beralih pada pendekatan diplomatik yang melibatkan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan Perserikatan Bangsa‑Bangsa.
Sejumlah analis menilai bahwa pertumbuhan koalisi menjadi 40 negara dapat meningkatkan tekanan ekonomi pada Iran, terutama bila sanksi tambahan diberlakukan. Namun, tanpa adanya kesepakatan dialog, risiko terjadinya insiden militer di perairan selat tetap tinggi.
Keputusan Inggris untuk memperluas koalisi menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam menjaga kebebasan navigasi di jalur strategis tersebut, sekaligus menyoroti tantangan diplomatik yang harus dihadapi oleh komunitas internasional dalam menyeimbangkan keamanan regional dan kepentingan energi global.




