Komunitas Ni Pollok Bangkitkan Legong Keraton Lasem Era 1930 di PKB
Komunitas Ni Pollok Bangkitkan Legong Keraton Lasem Era 1930 di PKB

Komunitas Ni Pollok Bangkitkan Legong Keraton Lasem Era 1930 di PKB

Frankenstein45.Com – 28 Juni 2026 | Komunitas Seni Ni Pollok yang berbasis di Banjar Kelandis, Desa Sumerta Kauh, Denpasar, Bali, kembali menampilkan kembali Legong Keraton Lasem, sebuah tarian tradisional yang sempat terpuruk sejak era 1930-an. Upaya kebangkitan ini dipentaskan di Pusat Kebudayaan (PKB) pada pekan lalu, menyuguhkan penonton dengan pertunjukan yang menggabungkan keaslian gerakan klasik dan nuansa kontemporer.

Legong Keraton Lasem awalnya berkembang di Keraton Lasem, Jepara, pada masa kolonial Belanda. Tarian ini dikenal dengan gerakan tangan yang halus, ekspresi wajah yang tajam, serta musik gamelan khas Jawa. Namun, seiring berjalannya waktu, terutama setelah Perang Dunia II, minat terhadap Legong ini menurun drastis hingga hampir menghilang dari panggung seni Indonesia.

Komunitas Ni Pollok memutuskan untuk menghidupkan kembali warisan tersebut dengan langkah-langkah berikut:

  • Penelitian arsip: Anggota komunitas mengkaji catatan kuno, foto, dan rekaman suara yang tersimpan di perpustakaan daerah dan museum.
  • Pelatihan intensif: Para penari muda menjalani program latihan selama enam bulan, dipandu oleh guru tari senior yang memiliki pengalaman langsung dengan warisan Legong.
  • Pembuatan kostum: Desainer lokal mereproduksi kostum tradisional menggunakan bahan tradisional seperti sutra dan batik, menyesuaikan dengan detail ornamen era 1930.
  • Rekonstruksi musik: Pemain gamelan menyusun kembali susunan musik berdasarkan notasi yang ditemukan, menyesuaikan tempo agar tetap autentik.

Pertunjukan di PKB menampilkan sepuluh penari utama yang memerankan peran utama Legong, didukung oleh grup vokal dan pemain gamelan. Penonton memberikan respon positif, memuji ketepatan gerakan dan keindahan kostum yang berhasil menghidupkan suasana masa lampau.

Direktur Komunitas Ni Pollok, I Made Suwarta, menyatakan bahwa tujuan utama kebangkitan Legong Keraton Lasem bukan sekadar hiburan, melainkan upaya pelestarian nilai budaya yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda. Ia menambahkan bahwa komunitas berencana mengadakan lokakarya di beberapa daerah di Indonesia untuk memperluas pengetahuan tentang tarian ini.

Keberhasilan ini diharapkan menjadi contoh bagi komunitas seni lain dalam mengembalikan warisan budaya yang terancam punah, serta memperkaya khazanah seni pertunjukan Indonesia di era modern.