Frankenstein45.Com – 03 Juli 2026 | Kementerian Pertahanan (Kemhan) Republik Indonesia sedang menghadapi kontroversi setelah dua video viral yang menunjukkan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) melakukan latihan dasar militer. Video tersebut memperlihatkan peserta merayap di dalam got dan mengangkat senjata, yang kemudian direspons dengan tegas oleh pihak Kemhan sebagai hoaks.
Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto, menjelaskan bahwa peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) tetap mengenakan seragam militer untuk alasan efisiensi biaya. “Nanti kalau kita ganti seragam, nambah biaya lagi. Jadi tetap kita gunakan seragam,” ungkap Donny. Meskipun pelatihan kini berfokus pada aspek bela negara dan manajerial, seragam yang sama dipertahankan untuk menghindari biaya tambahan.
Brigjen TNI Rico Sirait, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, menegaskan bahwa kedua video yang beredar bukanlah dokumentasi dari pelatihan calon manajer Koperasi Desa, melainkan merupakan bagian dari latihan Komponen Cadangan (Komcad) untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berlangsung pada Oktober 2025. “Peserta dalam video tersebut adalah peserta Komcad ASN dari lingkungan Kemhan,” jelas Rico.
Pergeseran Materi Pelatihan
Kemhan telah mengubah format pelatihan untuk calon manajer Koperasi Desa, terutama setelah insiden tragis yang mengakibatkan kematian lima peserta selama latihan dasar militer. “Dalam penyesuaian ini, materi teknis dan taktis militer sudah dihilangkan, termasuk kegiatan menembak dan taktik regu senapan,” ujar Rico.
Kini, aktivitas fisik yang dilakukan oleh peserta dibatasi pada olahraga ringan seperti senam pagi dan jalan kaki. Kemhan juga memperkuat pengawasan kesehatan peserta melalui pemantauan harian dan pemeriksaan bagi mereka yang memiliki faktor risiko kesehatan. Rico menekankan bahwa keselamatan dan kesehatan peserta adalah prioritas utama dalam pelatihan ini.
Reaksi Publik dan Tanggapan Kementerian
Video viral ini sempat memicu reaksi negatif dari masyarakat, yang mempertanyakan relevansi pelatihan militer bagi calon manajer sipil. Banyak yang berpendapat bahwa materi yang diajarkan tidak sesuai dengan peran yang akan dijalani oleh peserta setelah pelatihan. Menanggapi hal ini, Donny Ermawan menegaskan bahwa pelatihan saat ini lebih fokus pada pembekalan bela negara dan manajerial, tanpa melibatkan materi taktis militer.
“Mereka hanya diberikan pelajaran terkait dengan nasionalisme, patriotisme, dan disiplin. Karena mereka mengikuti jadwal harian, yang artinya melatih disiplin waktu juga,” tambah Donny. Proses pelatihan ini direncanakan berlangsung hingga pertengahan Juli 2026, setelah itu peserta akan menerima materi tentang kepemimpinan dan manajerial yang relevan dengan tugas mereka.
Kesimpulan
Kontroversi mengenai video viral calon manajer Kopdes yang berlatih militer menunjukkan pentingnya komunikasi yang jelas antara pemerintah dengan masyarakat. Penyesuaian materi pelatihan yang dilakukan oleh Kemhan merupakan respons terhadap insiden yang terjadi, dan diharapkan dapat meningkatkan keselamatan serta efektivitas pelatihan bagi peserta. Masyarakat pun diharapkan memberikan dukungan dan pengertian terhadap perubahan yang dilakukan demi kepentingan bersama.




