Kontroversi Maarten Paes di Ajax: Dari Olok‑Olok Pundit Belanda hingga Tekanan Poin Champions League
Kontroversi Maarten Paes di Ajax: Dari Olok‑Olok Pundit Belanda hingga Tekanan Poin Champions League

Kontroversi Maarten Paes di Ajax: Dari Olok‑Olok Pundit Belanda hingga Tekanan Poin Champions League

Frankenstein45.Com – 10 April 2026 | Penjaga gawang Timnas Indonesia, Maarten Paes, kembali menjadi sorotan tajam menjelang laga tandang Ajax Amsterdam melawan Heracles Almelo pada 12 April 2026. Meskipun Paes telah menorehkan dua clean sheet dalam enam penampilan awalnya bersama Ajax, statistik kebobolan tujuh gol dan rating rata‑rata 6,94 per laga membuatnya menjadi bahan perbincangan hangat di antara pengamat sepak bola Belanda.

Sejak resmi bergabung dari FC Dallas pada Februari 2025 dengan nilai transfer sekitar 1,5 juta euro, Paes telah menggantikan Vitezslav Jaros yang cedera panjang. Tinggi 1,92 meter, ia diharapkan menjadi solusi fisik bagi Ajax yang kini berjuang menembus posisi dua klasemen Eredivisie untuk mengamankan tiket otomatis Liga Champions. Namun, kritik tak henti‑hentinya datang dari dua pundit senior, Rene van der Gijp dan Wim Kieft, yang dalam sebuah episode podcast “KieftJansenEgmondGijp” menyebut nama Paes dengan tawa terbahak‑bahak, bahkan mengira nama depannya adalah “Wouter”.

Reaksi Pundit dan Mantan Legenda

Selain van der Gijp dan Kieft, komentar tajam juga terdengar dari Johan Derksen dalam program “Vandaag Inside”. Derksen menyebut Paes sebagai “kiper yang cacat” dan mempertanyakan kebijakan Ajax yang memilih pemain dengan profil masih dipertanyakan. Tidak hanya itu, legenda Ajax Dennis Bergkamp menambahkan kritiknya, menilai rekrutmen Paes sebagai langkah yang mengganggu “DNA” klub yang seharusnya mengutamakan produk akademi muda. Bergkamp menegaskan bahwa mengimpor pemain dengan kualitas “B atau C” dapat merusak identitas jangka panjang Ajax.

Walau demikian, pelatih Ajax Oscar García tetap mempertahankan kepercayaan pada Paes. Dalam pernyataan resmi klub pada 9 April 2026, García menyoroti intensitas latihan ekstra tim senior menjelang pertandingan melawan Heracles, menekankan pentingnya kerja keras untuk menebus kekalahan 1‑2 melawan FC Twist pada pekan sebelumnya. “Kami menyiapkan diri secara intensif, karena setiap poin sangat berharga dalam perjuangan kami ke Liga Champions,” ujar García.

Situasi Klasemen dan Tantangan Ajax

Saat ini Ajax berada di urutan kelima dengan 48 poin, terpaut enam poin dari Feyenoord di posisi kedua dan lima poin dari NEC Nijmegen yang memperebutkan tempat ketiga. Dengan hanya lima pertandingan tersisa, Ajax harus mengamankan tiga poin melawan Heracles, tim yang berada di dasar klasemen dengan 19 poin, untuk tetap hidup dalam persaingan tiket Champions League.

Performa tim dalam beberapa pekan terakhir belum konsisten. Setelah mengukir kemenangan 4‑0 atas Sparta Rotterdam pada pekan ke‑27, Ajax hanya berhasil meraih satu kemenangan dalam enam pertandingan terakhir, sisanya dua imbang dan dua kalah. Kegagalan tersebut menambah tekanan pada lini belakang, khususnya pada Paes yang menjadi sorotan utama.

Karier Internasional Paes

Di luar kompetisi klub, Paes tetap menjadi pilar utama bagi Timnas Indonesia. Ia memperoleh paspor Indonesia pada 30 April 2024 melalui jalur keturunan neneknya yang lahir di Kediri, Jawa Timur. Sejak debut internasional pada 5 September 2024, Paes telah mengumpulkan 11 kapten, termasuk penampilan gemilang saat Indonesia mengalahkan St. Kitts and Nevis 4‑0 pada FIFA Matchday 27 Maret 2026. Prestasinya di level nasional bahkan membuatnya dinobatkan sebagai Penjaga Gawang Terbaik dalam PSSI Awards 2026, meski kritik domestik tetap mengiringi penampilannya di Eredivisie.

Keberadaan Paes di Ajax menjadi contoh kompleksitas pemain naturalisasi yang berusaha menyeimbangkan ekspektasi klub Eropa dengan kebanggaan nasional. Sementara para pengamat Belanda menyoroti kekurangan teknis dan konsistensi, para pendukung Indonesia melihatnya sebagai pionir yang membuka peluang bagi lebih banyak pemain Asia di liga top Eropa.

Menjelang laga melawan Heracles, fokus utama Ajax tetap pada strategi pertahanan yang solid serta penyesuaian taktis yang dapat memaksimalkan kemampuan Paes dalam mengendalikan area penalti. Jika Ajax berhasil mengamankan tiga poin, peluangnya untuk menggapai posisi dua dan tiket Champions League akan meningkat signifikan. Sebaliknya, kegagalan akan menambah tekanan pada pelatih dan menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai kebijakan transfer klub.

Terlepas dari kontroversi yang mengelilinginya, Maarten Paes tetap bertekad membuktikan diri di panggung Eropa. Bagi Ajax, keputusan untuk mempertahankannya hingga 2029 mencerminkan harapan jangka panjang, sementara bagi pengamat Belanda, ia menjadi simbol perdebatan mengenai kualitas rekrutmen asing di era modern.