Krisis Bahan Baku Plastik, Pemerintah Bidik Rumput Laut hingga Singkong Jadi Penggantinya
Krisis Bahan Baku Plastik, Pemerintah Bidik Rumput Laut hingga Singkong Jadi Penggantinya

Krisis Bahan Baku Plastik, Pemerintah Bidik Rumput Laut hingga Singkong Jadi Penggantinya

Frankenstein45.Com – 11 April 2026 | Indonesia sedang menghadapi krisis pasokan bahan baku plastik akibat terbatasnya ketersediaan naphtha, bahan utama dalam produksi polimer tradisional. Pemerintah menanggapi tantangan ini dengan menggencarkan riset dan pengembangan bioplastik berbasis bahan baku lokal, khususnya rumput laut dan singkong.

Strategi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan impor, menurunkan emisi karbon, serta membuka peluang ekonomi baru bagi petani dan industri pengolahan.

Beberapa langkah utama yang direncanakan antara lain:

  • Peningkatan dana riset pada teknologi ekstraksi karbohidrat dari rumput laut dan singkong.
  • Pembentukan kemitraan antara lembaga penelitian, universitas, dan pelaku industri plastik.
  • Penerapan insentif fiskal bagi perusahaan yang memproduksi atau menggunakan bioplastik.
  • Pengembangan standar kualitas dan sertifikasi produk bioplastik nasional.

Rumput laut, yang melimpah di wilayah pesisir Indonesia, mengandung polisakarida seperti agar dan carrageenan yang dapat diubah menjadi bahan baku plastik biodegradable. Sementara singkong, sebagai salah satu komoditas pangan utama, menyimpan pati yang dapat diolah menjadi polilaktida (PLA), sejenis bioplastik yang telah terbukti ramah lingkungan.

Analisis awal menunjukkan bahwa penggunaan bahan baku ini dapat menurunkan biaya produksi hingga 20 persen dan mengurangi jejak karbon sebesar 30 persen dibandingkan dengan naphtha konvensional.

Pemerintah menargetkan peluncuran produk biplastik komersial pertama pada tahun 2026, seiring dengan upaya memperkuat rantai pasokan dalam negeri dan mendukung agenda ekonomi hijau.