Frankenstein45.Com – 25 Mei 2026 | Krisis perubahan iklim yang semakin intens kini menambah beban bagi wirausaha perempuan di Indonesia. Kenaikan suhu, perubahan pola hujan, serta frekuensi bencana alam membuat banyak usaha kecil—terutama yang berbasis pertanian, perikanan, dan kerajinan—semakin terancam.
Tanpa dukungan pembiayaan yang ramah lingkungan, para pengusaha perempuan kesulitan mengakses teknologi adaptasi seperti irigasi hemat air, pupuk organik, atau sistem energi terbarukan. Akibatnya, mereka harus menanggung biaya operasional yang lebih tinggi dan risiko kerugian yang meningkat.
Berbagai lembaga keuangan telah meluncurkan produk pembiayaan hijau, namun data menunjukkan bahwa penyaluran dana ke sektor usaha perempuan masih sangat terbatas. Berikut ini gambaran singkat alokasi pembiayaan hijau pada tahun 2023:
| Sektor | Jumlah Pendanaan (Miliar Rupiah) |
|---|---|
| Energi Terbarukan | 150 |
| Pertanian Berkelanjutan | 85 |
| Usaha Mikro Perempuan | 12 |
Data di atas mengungkap bahwa hanya sekitar 5% dari total pembiayaan hijau yang dialokasikan untuk usaha mikro yang dimiliki perempuan.
Para ahli menekankan pentingnya memperluas akses pembiayaan hijau dengan kriteria yang lebih inklusif. Beberapa langkah yang diusulkan antara lain:
- Penyesuaian skor kredit untuk memperhitungkan faktor sosial dan lingkungan.
- Penyediaan pelatihan teknis tentang teknologi adaptasi iklim bagi perempuan.
- Pembentukan dana khusus yang dikelola bersama antara pemerintah, bank, dan lembaga non‑profit.
Dengan meningkatkan dukungan finansial dan pengetahuan teknis, diharapkan usaha perempuan dapat lebih tangguh menghadapi dampak iklim dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.




