Frankenstein45.Com – 17 April 2026 | Helikopter Airbus H130 dengan registrasi PK-CFX yang dioperasikan oleh sebuah perusahaan layanan udara mengalami kecelakaan fatal di wilayah Sekadau, Kalimantan Barat pada hari kejadian. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Basarnas) telah merilis rangkaian peristiwa yang mengarah pada jatuhnya pesawat tersebut.
Berikut rangkaian kronologi yang disusun berdasarkan laporan tim SAR, data radar, serta saksi di lapangan:
- 06:45 WIB – Persiapan lepas landas: Pilot melakukan pemeriksaan pra‑terbang, termasuk cek bahan bakar, sistem navigasi, dan kondisi cuaca. Helikopter dipersiapkan untuk mengangkut penumpang dan kargo menuju lokasi kerja di daerah pedalaman.
- 06:52 WIB – Take off: PK-CFX berhasil lepas landas dari lapangan terbang kecil di Sekadau dengan kondisi cuaca berawan namun tidak ada peringatan cuaca buruk.
- 06:57 WIB – Hilang kontak: Lima menit setelah lepas landas, tim kontrol penerbangan tidak lagi menerima sinyal radio maupun transponder dari helikopter. Upaya menghubungi pilot melalui frekuensi darurat tidak membuahkan respons.
- 06:58–07:10 WIB – Pencarian awal: Tim SAR Basarnas, TNI‑AU, serta petugas kepolisian setempat segera dikerahkan. Pesawat pencari udara dan helikopter SAR mulai mengorbit area perkiraan jalur penerbangan.
- 07:12 WIB – Penemuan bangkai: Dari ketinggian, tim SAR mendeteksi asap tipis di sebuah area hutan lebat. Tim darat dikerahkan dan menemukan sisa-sisa helikopter yang hancur lempeng di antara pepohonan.
- 07:20 WIB – Evakuasi korban: Tim medis mengevakuasi tiga korban yang masih terikat pada bangkai. Sayangnya, semua penumpang dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian.
Hasil investigasi awal menunjukkan tidak adanya indikasi kerusakan mekanis yang signifikan sebelum kecelakaan. Faktor cuaca masih ditelusuri, meskipun data radar tidak memperlihatkan turbulensi ekstrem pada saat kejadian. Basarnas akan melanjutkan penyelidikan mendalam dengan melibatkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi Udara (KNKT) untuk menentukan penyebab pasti.
Kecelakaan ini menimbulkan pertanyaan mengenai standar operasional penerbangan di wilayah terpencil serta kesiapan sarana darurat. Pemerintah daerah Kalimantan Barat berjanji meningkatkan koordinasi antar lembaga demi mencegah kejadian serupa di masa mendatang.




