Kualitas Udara Jakarta Catat Rekor Terburuk di Dunia pada Pagi Minggu
Kualitas Udara Jakarta Catat Rekor Terburuk di Dunia pada Pagi Minggu

Kualitas Udara Jakarta Catat Rekor Terburuk di Dunia pada Pagi Minggu

Frankenstein45.Com – 03 Mei 2026 | Menurut data yang dipublikasikan oleh IQAir, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta pada Minggu pagi pukul 06.00 WIB mencapai level yang dikategorikan sebagai “tidak sehat” dan menempatkan ibu kota Indonesia pada peringkat terburuk di dunia pada saat itu. Angka AQI yang tercatat mencapai 210, jauh melampaui ambang batas aman yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Berikut ini perbandingan singkat AQI Jakarta dengan lima kota lain yang biasanya masuk dalam daftar kota paling tercemar:

  • Jakarta – AQI 210
  • Beijing, China – AQI 180
  • Delhi, India – AQI 170
  • Ulaanbaatar, Mongolia – AQI 165
  • Karachi, Pakistan – AQI 150

Lonjakan pencemaran udara di Jakarta dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Kepadatan lalu lintas yang tinggi, terutama pada jam-jam pagi ketika ribuan kendaraan beroperasi secara bersamaan.
  2. Kondisi cuaca yang stagnan, dengan angin lemah yang menghambat penyebaran partikel pencemar.
  3. Pembakaran sampah terbuka di beberapa wilayah pinggiran kota.

Partikel halus PM2.5 menjadi kontributor utama pada tingginya nilai AQI. Konsentrasi PM2.5 tercatat melebihi 150 mikrogram per meter kubik, hampir tiga kali lipat ambang batas aman (35 µg/m³) yang disarankan WHO untuk paparan jangka panjang.

Dampak kesehatan yang mungkin timbul meliputi iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, gangguan pernapasan bagi penderita asma, serta peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pada jangka panjang. Pemerintah daerah telah mengeluarkan anjuran bagi warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker N95, dan memperbanyak ventilasi di ruangan tertutup.

Upaya mitigasi yang sedang dijalankan meliputi penambahan armada transportasi umum, pembatasan kendaraan bermotor pribadi pada jam sibuk, serta penegakan larangan pembakaran sampah secara terbuka. Meskipun demikian, para pakar menekankan perlunya langkah yang lebih terintegrasi, termasuk peningkatan kualitas bahan bakar, pengembangan zona hijau, dan edukasi publik tentang dampak polusi udara.