Frankenstein45.Com – 16 Mei 2026 | Baru-baru ini, sekelompok mahasiswa Program Studi Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melakukan kunjungan lapangan ke Kebun Kita, sebuah fasilitas pertanian modern yang berlokasi di Malaysia. Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari penerapan konsep pertanian berkelanjutan yang mengintegrasikan prinsip zero waste dengan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS).
Kebun Kita mengusung model produksi yang memadukan budidaya ikan lele dan sayuran hidroponik organik dalam satu siklus tertutup. Dalam sistem RAS, air yang mengalir melalui kolam ikan dipompa kembali ke sistem hidroponik setelah melalui proses filtrasi biologis dan kimia, sehingga nutrisi dari limbah ikan dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi kebutuhan air hingga 90% dibandingkan pertanian konvensional, tetapi juga meminimalisir produksi limbah.
Selama kunjungan, mahasiswa ITS memperoleh wawasan praktis mengenai beberapa tahapan utama dalam operasi Kebun Kita:
- Persiapan air dan inokulasi bakteri nitrifikasi: Air diperlakukan dengan filter mekanik dan biologis untuk menghilangkan partikel besar serta mengkultur bakteri yang mengubah amonia menjadi nitrat, nutrisi penting bagi tanaman.
- Budidaya ikan lele: Ikan lele dibudidayakan dalam kolam tertutup dengan kepadatan terkontrol, menghasilkan limbah organik kaya nitrogen.
- Hidroponik organik: Tanaman sayuran seperti selada, bayam, dan pakcoy ditanam dalam media inert (rockwool atau cocopeat) dan dipupuk secara alami menggunakan nutrisi yang dihasilkan dari limbah ikan.
- Siklus penutupan dan daur ulang: Air yang telah melewati proses penyerapan nutrisi oleh tanaman kembali ke kolam ikan, melengkapi siklus tertutup yang hampir tanpa limbah.
Mahasiswa juga mencatat beberapa manfaat lingkungan dan ekonomi yang ditawarkan oleh model ini:
| Aspek | Manfaat |
|---|---|
| Penggunaan air | Pengurangan hingga 90% dibandingkan pertanian konvensional |
| Limbah | Zero waste melalui daur ulang nutrisi |
| Produksi | Hasil simultan ikan dan sayuran meningkatkan efisiensi lahan |
| Emisi karbon | Rendah karena minim transportasi input dan output |
Setelah selesai mengamati proses produksi, kelompok mahasiswa melakukan diskusi kelompok untuk merancang skenario penerapan model RAS di lingkungan kampus mereka. Ide-ide yang muncul antara lain: pembuatan mini‑aquaponik di laboratorium, kolaborasi dengan fakultas pertanian untuk penelitian bersama, serta program edukasi bagi masyarakat sekitar mengenai pentingnya zero waste dalam pertanian.
Kunjungan ini tidak hanya menambah pengetahuan praktis mahasiswa, tetapi juga memperkuat komitmen mereka dalam mengembangkan solusi pertanian berkelanjutan yang dapat diadaptasi di Indonesia.




