Frankenstein45.Com – 02 Juni 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menuai sorotan publik setelah serangkaian kunjungan kerja (kunker) ke luar negeri pada awal tahun 2024. Kritik utama datang dari mantan Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, yang menilai frekuensi dan tujuan kunjungan tersebut kurang tepat serta menyoroti masa jabatan singkatnya sebagai Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) yang hanya tiga bulan.
Menanggapi hal tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri, Teddy, memberikan klarifikasi dan menegaskan bahwa kunjungan Presiden merupakan bagian penting dari strategi diplomasi aktif yang sedang dijalankan. Teddy juga menyinggung fakta bahwa Dino Patti Djalal menjabat sebagai Wamenlu hanya selama tiga bulan, yang menurutnya menurunkan kredibilitas kritik yang dilontarkan.
Rangkaian kunjungan Presiden
- Januari 2024: Kunjungan kerja ke Washington, AS, untuk memperkuat kerja sama pertahanan dan energi.
- Februari 2024: Perjalanan ke Tokyo, Jepang, dengan agenda penandatanganan perjanjian perdagangan bilateral.
- Maret 2024: Penjajakan kerja sama investasi di Berlin, Jerman, khususnya di sektor teknologi hijau.
- April 2024: Dialog multilateral di Seoul, Korea Selatan, mengenai keamanan maritim di Laut China Selatan.
Teddy menekankan bahwa pencapaian ini tidak lepas dari kebijakan diplomasi “aktif, produktif, dan terukur” yang digariskan Presiden Prabowo. “Kunjungan luar negeri bukan sekadar agenda politik, melainkan langkah konkret untuk menarik investasi, memperkuat aliansi strategis, dan meningkatkan posisi Indonesia di kancah internasional,” ujar Teddy dalam konferensi pers di Jakarta pada 30 Mei 2024.
Sementara itu, Dino Patti Djalal mengingatkan agar pemerintah tidak mengorbankan prioritas domestik demi agenda luar negeri yang berlebihan. Ia menambahkan, “Kunjungan yang terlalu sering dapat menimbulkan persepsi bahwa pemerintah lebih mengutamakan citra internasional daripada penyelesaian masalah di dalam negeri.”
Tanggapan Teddy menyoroti bahwa kritik tersebut seharusnya dilihat dalam konteks masa jabatan singkat Dino Patti Djalal sebagai Wamenlu, yang menurutnya tidak memberikan ruang cukup untuk menilai kebijakan luar negeri secara menyeluruh.
Para pengamat politik menilai bahwa perdebatan ini mencerminkan dinamika internal partai dan pemerintah dalam menentukan prioritas kebijakan luar negeri. Namun, mayoritas setuju bahwa hasil konkret dari kunjungan Presiden, seperti peningkatan investasi dan kerja sama pertahanan, memberikan dampak positif bagi perekonomian dan keamanan nasional.




