Kurs Rupiah Tembus Rp17.800, Ekonom: Tekanan Ekonomi Buat Makin Terpuruk
Kurs Rupiah Tembus Rp17.800, Ekonom: Tekanan Ekonomi Buat Makin Terpuruk

Kurs Rupiah Tembus Rp17.800, Ekonom: Tekanan Ekonomi Buat Makin Terpuruk

Frankenstein45.Com – 28 Mei 2026 | Rupiah Indonesia menembus level Rp17.800 per dolar Amerika pada sesi perdagangan hari ini, mencatat penurunan nilai tukar terparah dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan pengamat ekonomi terkait dampaknya terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.

Berbagai faktor eksternal dan internal berkontribusi pada pelemahan mata uang. Di tingkat global, ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter negara maju menekan aliran modal ke pasar berkembang. Sementara itu, kebijakan domestik yang bersifat sangat hati-hati dalam menyesuaikan subsidi dan harga pangan, meski bertujuan melindungi stabilitas sosial, secara tidak langsung menambah tekanan pada nilai tukar.

Seorang ekonom terkemuka menyatakan, “Ketika penyesuaian domestik dilakukan sangat hati-hati demi menjaga stabilitas sosial dan daya beli, maka tekanan akhirnya lebih banyak berpindah ke rupiah.” Pernyataan ini menegaskan bahwa upaya menjaga kesejahteraan rakyat dapat berbalik menjadi beban bagi nilai mata uang bila tidak diimbangi dengan kebijakan moneter yang tepat.

Berikut beberapa konsekuensi utama dari depresiasi Rupiah:

  • Kenaikan biaya impor: Harga barang kebutuhan pokok yang diimpor, seperti bahan baku industri dan pangan, cenderung naik, berpotensi memicu inflasi.
  • Biaya layanan utang luar negeri: Beban pembayaran kembali utang berdenominasi dolar menjadi lebih tinggi, menekan neraca keuangan pemerintah dan korporasi.
  • Daya beli konsumen: Nilai tukar yang melemah mengurangi kemampuan masyarakat dalam membeli barang dan jasa, terutama yang bergantung pada impor.

Bank Indonesia diperkirakan akan mempertimbangkan beberapa langkah untuk menstabilkan pasar, antara lain:

  1. Meningkatkan suku bunga acuan guna menarik aliran modal asing.
  2. Melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan menjual cadangan devisa.
  3. Koordinasi dengan pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan fiskal, termasuk peninjauan subsidi yang terlalu luas.

Data historis nilai tukar dalam satu minggu terakhir menunjukkan tren penurunan yang konsisten:

Tanggal Kurs (Rp/USD)
21 Mei 2024 Rp17.250
22 Mei 2024 Rp17.400
23 Mei 2024 Rp17.580
24 Mei 2024 Rp17.720
25 Mei 2024 Rp17.800

Para analis menilai bahwa tanpa adanya reformasi struktural dan kebijakan moneter yang lebih tegas, tekanan pada Rupiah dapat berlanjut, memperburuk kondisi ekonomi domestik. Oleh karena itu, koordinasi lintas sektor menjadi kunci untuk memitigasi dampak negatif dan menjaga kestabilan nilai tukar ke depannya.