Kweekschool SMA 2 Bukittinggi Berperan Lahirkan Bahasa Nasional
Kweekschool SMA 2 Bukittinggi Berperan Lahirkan Bahasa Nasional

Kweekschool SMA 2 Bukittinggi Berperan Lahirkan Bahasa Nasional

Frankenstein45.Com – 26 April 2026 | Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menegaskan bahwa Kweekschool SMA 2 Bukittinggi memiliki peran penting dalam proses terbentuknya bahasa persatuan Indonesia. Sekolah yang awalnya didirikan pada masa kolonial Belanda sebagai lembaga pelatihan guru ini menjadi salah satu pusat pembelajaran bahasa Melayu yang kemudian berkembang menjadi Bahasa Indonesia.

Kweekschool dibuka pada akhir abad ke-19 dengan tujuan melatih tenaga pengajar untuk sekolah-sekolah dasar di Sumatera Barat. Kurikulum pada saat itu menekankan penggunaan bahasa Melayu baku, yang dipilih karena menjadi lingua franca di kepulauan. Para guru yang dilatih di SMA 2 Bukittinggi menyebarkan penggunaan bahasa ini ke daerah-daerah lain, memperkuat konsistensi istilah dan tata bahasa.

Seiring dengan gerakan kebangsaan pada awal abad ke-20, terutama Sumpah Pemuda 1928 yang mengikrarkan satu bahasa persatuan, alumni Kweekschool ikut berperan aktif. Berikut beberapa tokoh penting yang berafiliasi dengan Kweekschool SMA 2 Bukittinggi:

  • Dr. Abdul Muis – aktivis pergerakan kemerdekaan yang turut mengadvokasi penggunaan Bahasa Indonesia dalam pendidikan.
  • Haji Ahmad Zaini – guru senior yang menulis buku tata bahasa Melayu yang menjadi rujukan utama pada masa awal bangsa.
  • Sri Budiarti – pendidik wanita yang memperkenalkan metode pengajaran bahasa yang memadukan unsur lokal dan nasional.

Kontribusi institusi ini tidak hanya terbatas pada pelatihan guru, melainkan juga pada produksi literatur pendidikan berbahasa Indonesia. Buku-buku pelajaran, kamus, dan materi pembelajaran yang dihasilkan di Kweekschool menjadi acuan bagi sekolah-sekolah di seluruh Sumatera Barat.

Hingga kini, SMA 2 Bukittinggi tetap menjaga warisan sejarahnya dengan mengadakan seminar dan lomba menulis yang menekankan pentingnya bahasa Indonesia sebagai simbol persatuan. Pemerintah daerah juga menginisiasi program beasiswa bagi siswa berprestasi yang ingin melanjutkan studi di bidang bahasa dan pendidikan, melanjutkan tradisi Kweekschool dalam mencetak generasi penerus yang menguasai bahasa nasional.