Laporan IEA: Indonesia Menjadi Penyumbang Emisi Metana Kedua Terbesar di Asia Tenggara
Laporan IEA: Indonesia Menjadi Penyumbang Emisi Metana Kedua Terbesar di Asia Tenggara

Laporan IEA: Indonesia Menjadi Penyumbang Emisi Metana Kedua Terbesar di Asia Tenggara

Frankenstein45.Com – 07 Mei 2026 | International Energy Agency (IEA) baru saja mempublikasikan laporan tahunan tentang emisi metana yang menyoroti kontribusi negara-negara di Asia Tenggara. Laporan tersebut menempatkan Indonesia sebagai penyumbang emisi metana fosil terbesar kedua di kawasan, berada di belakang Thailand dan jauh di atas negara-negara tetangga lainnya.

Emisi metana Indonesia pada tahun 2023 tercatat sekitar 33,5 juta ton CO₂‑ekivalen, meningkat sekitar 7 % dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama dipicu oleh sektor energi, khususnya pembangkit listrik tenaga batu bara dan operasi produksi minyak serta gas alam.

Negara Emisi Metana (juta ton CO₂‑ekv)
Thailand 38,2
Indonesia 33,5
Vietnam 12,4
Filipina 9,8
Malaysia 7,6

Berikut adalah faktor‑faktor utama yang berkontribusi pada peningkatan emisi metana di Indonesia:

  • Pembangkit listrik tenaga batu bara: Kebocoran pada proses pembakaran dan transportasi batubara.
  • Eksploitasi minyak dan gas: Emisi fugitive dari sumur, jaringan pipa, serta proses pengolahan.
  • Peternakan dan limbah organik: Meskipun kontribusinya lebih kecil dibandingkan sektor energi, sektor ini tetap menyumbang secara signifikan.

Pemerintah Indonesia telah merespon temuan ini dengan beberapa langkah strategis, antara lain:

  1. Peningkatan standar inspeksi kebocoran pada instalasi minyak dan gas.
  2. Pengembangan teknologi penangkap metana (methane capture) pada pembangkit listrik batu bara.
  3. Implementasi program pengelolaan limbah organik yang berbasis bio‑digester.
  4. Peningkatan regulasi dan insentif bagi perusahaan yang berhasil menurunkan intensitas emisi metana.

Namun, para ahli menilai bahwa upaya tersebut masih belum cukup untuk menurunkan tren emisi secara signifikan. Mereka menyarankan peningkatan transparansi data, investasi yang lebih besar dalam energi terbarukan, serta adopsi kebijakan harga karbon yang lebih ketat.

Dengan tekanan global untuk mengurangi gas rumah kaca, posisi Indonesia sebagai penyumbang metana terbesar kedua di Asia Tenggara menjadi tantangan sekaligus peluang bagi negara untuk mempercepat transisi energi bersih dan mengurangi dampak perubahan iklim.