Lebih dari Seribu Orang Ikuti Aksi Kamisan Reformasi 1998
Lebih dari Seribu Orang Ikuti Aksi Kamisan Reformasi 1998

Lebih dari Seribu Orang Ikuti Aksi Kamisan Reformasi 1998

Frankenstein45.Com – 21 Mei 2026 | Ribuan warga dan aktivis berkumpul pada Kamis, 20 Oktober 2023, di alun‑alun kota Jakarta untuk melanjutkan aksi Kamisan yang menyoroti kegagalan pelaksanaan cita‑cita Reformasi 1998. Lebih dari seribu orang diperkirakan hadir, mengangkat spanduk, menyalakan lilin, dan mengumandangkan teriakan menuntut penegakan kembali nilai‑nilai demokrasi, keadilan, dan transparansi yang dijanjikan sejak jatuhnya rezim Orde Baru.

Para peserta menilai bahwa semangat Reformasi yang seharusnya menjadi fondasi perubahan politik dan sosial di Indonesia kini “seakan sudah mati”. Mereka menuding masihnya praktik korupsi meluas, penindasan terhadap kebebasan bersuara, serta ketidakadilan dalam penegakan hukum sebagai bukti kegagalan reformasi.

Demonstrasi dipimpin oleh tokoh‑tokoh organisasi masyarakat sipil, termasuk Lembaga Advokasi Hak Asasi Manusia Indonesia (LAHAM), Koalisi Masyarakat Anti‑KKN, serta beberapa kelompok mahasiswa. Selama aksi, mereka menyampaikan beberapa tuntutan utama:

  • Menghentikan praktik korupsi tingkat tinggi dan menindak tegas pelaku korupsi yang masih bebas;
  • Memperkuat independensi lembaga peradilan dan kepolisian;
  • Mengembalikan kebebasan pers dan melindungi aktivis serta jurnalis dari intimidasi;
  • Menjamin transparansi dalam pengelolaan anggaran negara dan proyek infrastruktur;
  • Melakukan revisi kebijakan yang dianggap mengekang partisipasi politik warga.

Para penyelenggara menekankan bahwa aksi Kamisan bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan seruan agar pemerintah dan lembaga negara kembali menunaikan komitmen Reformasi 1998. Mereka berharap aksi ini dapat menjadi momentum untuk menggalang dukungan luas, baik dari kalangan politik, akademisi, maupun masyarakat umum, demi menegakkan kembali prinsip‑prinsip demokrasi yang sempat terpinggirkan.

Sementara itu, pihak kepolisian mencatat adanya kerumunan damai tanpa insiden kekerasan signifikan. Pengamanan dilakukan oleh satuan khusus, dengan penempatan pos keamanan di sekitar lokasi aksi untuk memastikan ketertiban umum.