Frankenstein45.Com – 16 Mei 2026 | Maulana Yusuf Erwinsyah, anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, mengkritik perayaan Milangkala Tatar Sunda yang baru-baru ini diselenggarakan di Bandung. Menurutnya, rangkaian acara tersebut tidak mencerminkan fakta sejarah yang ada, sehingga menimbulkan kesan keliru bagi publik.
Milangkala Tatar Sunda seharusnya menjadi wadah untuk memperingati tonggak penting dalam sejarah budaya Sunda, termasuk peristiwa-peristiwa penting pada masa Kerajaan Sunda. Namun, dalam kirab yang diadakan, beberapa elemen historis dipertukarkan atau disederhanakan secara berlebihan, antara lain:
- Penggunaan kostum yang tidak sesuai dengan era yang diperingati, melainkan mengadopsi gaya modern.
- Penempatan simbol-simbol kerajaan yang tidak konsisten dengan catatan kronik Sunda.
- Urutan prosesi yang menggabungkan elemen budaya yang berasal dari periode yang berbeda.
Erwinsyah menekankan bahwa legislator memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa perayaan budaya publik tidak menyebarkan interpretasi yang keliru. Ia menambahkan, “Jika kita ingin melestarikan warisan budaya, kita harus melakukannya dengan akurat, bukan sekadar hiburan semata.”
Pihak penyelenggara mengaku bahwa tujuan utama acara tersebut adalah memperkenalkan budaya Sunda kepada generasi muda dan wisatawan. Mereka menyatakan akan meninjau kembali materi historis yang digunakan dan berkoordinasi lebih intensif dengan ahli sejarah serta lembaga kebudayaan.
Sejumlah pakar sejarah budaya Sunda memberikan pandangan serupa. Dr. R. H. Suryawan, dosen Sejarah di Universitas Padjadjaran, menilai bahwa “pembentukan narasi sejarah dalam acara publik harus didasarkan pada sumber yang terverifikasi. Kesalahan kecil sekalipun dapat menimbulkan persepsi yang salah di masyarakat.”
Kontroversi ini memicu perdebatan di kalangan masyarakat Jawa Barat mengenai bagaimana cara terbaik mempromosikan kebudayaan lokal tanpa mengorbankan keakuratan sejarah. Beberapa warga mendukung upaya modernisasi, sementara yang lain menuntut rekonstruksi yang lebih teliti.
Ke depannya, legislator berjanji akan memperketat pengawasan terhadap acara budaya berskala besar, termasuk melibatkan tim ahli sejak tahap perencanaan. Hal ini diharapkan dapat menjamin bahwa perayaan tradisi tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan menghormati fakta sejarah.




