Frankenstein45.Com – 12 April 2026 | Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangerang kembali menegaskan komitmen mereka dalam memperkuat ketahanan pangan lokal melalui pengembangan urban farming. Inisiatif ini dirancang untuk meningkatkan kemandirian masyarakat kota dalam menyediakan sayuran, buah-buahan, dan bahan pangan lainnya tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasokan luar.
Program urban farming yang diluncurkan pada awal 2025 telah menunjukkan hasil signifikan. Selama satu tahun pertama, lebih dari 150 hektar lahan perkotaan diubah menjadi kebun komunitas, pekarangan rumah, dan atap gedung produktif. Total produksi mencapai 12.000 ton sayuran segar, cukup untuk memenuhi sekitar 30 % kebutuhan sayuran warga Tangerang.
Berikut langkah‑langkah kunci yang diambil oleh legislator dalam memfasilitasi program ini:
- Penyediaan lahan kosong milik pemerintah untuk kebun kota.
- Pelatihan teknik pertanian vertikal dan hidroponik bagi warga dan pelaku usaha mikro.
- Pemberian subsidi pupuk organik dan bibit unggul.
- Pembentukan koperasi pertanian perkotaan untuk memasarkan hasil secara langsung.
- Pengawasan dan evaluasi berkala oleh tim teknis DPRD.
Data performa program hingga Desember 2025 dirangkum dalam tabel berikut:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Luas lahan dikelola | 150 ha |
| Total produksi sayuran | 12.000 ton |
| Persentase kebutuhan pangan lokal terpenuhi | 30 % |
| Jumlah petani kota terlatih | 2.400 orang |
Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi model bagi kota‑kota lain di Jawa Barat dan seluruh Indonesia. Legislatif Tangerang menargetkan peningkatan luas lahan urban farming menjadi 300 ha pada tahun 2026, sekaligus memperluas jenis tanaman yang dapat diproduksi, termasuk buah beri dan herbal obat.
Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, urban farming berpotensi menjadi pilar utama dalam memperkokoh ketahanan pangan nasional.




