Frankenstein45.Com – 10 Juni 2026 | Pemerintah Kota Jakarta Timur kini memfokuskan upaya pengelolaan sampah dengan memadukan dua inovasi ramah lingkungan: budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dan pembuatan biopori. Kedua metode ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah organik, mempercepat proses dekomposisi, sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Bagaimana proses budidaya maggot BSF?
- Pengumpulan sampah organik dari rumah tangga, pasar, dan fasilitas publik.
- Sampah dipilah, dibersihkan, dan dicacah menjadi ukuran kecil.
- Materi organik tersebut dimasukkan ke dalam wadah khusus yang telah dipenuhi larva maggot BSF.
- Maggot mengonsumsi sampah, mengubahnya menjadi protein tinggi dan fraksi lemak.
- Setelah masa panen, maggot diproses menjadi pakan ternak, bahan baku pembuatan minyak, atau pupuk organik.
Keunggulan maggot BSF terletak pada kemampuan mengonsumsi hingga 60% berat sampah per hari, sehingga mengurangi kebutuhan ruang penampungan akhir. Selain itu, produk sampingan seperti frass (kotoran maggot) mengandung nutrisi penting bagi tanaman.
Peran biopori dalam pengelolaan sampah
- Biopori dibuat dengan menggali lubang berdiameter 1 meter dan kedalaman 1,5 meter, kemudian diisi dengan bahan organik berpori seperti sekam padi dan serbuk gergaji.
- Lubang ini berfungsi sebagai tempat peresapan air hujan, mengurangi limpasan, dan mempercepat degradasi sampah organik melalui aktivitas mikroba tanah.
- Setiap biopori dapat menampung sekitar 3.000 liter sampah organik per tahun, sekaligus menambah kelembaban tanah di sekitar area.
Penggabungan maggot BSF dan biopori memberikan sinergi: sampah yang tidak terpakai di biopori dapat dipindahkan ke wadah maggot untuk diproses lebih lanjut, sementara frass maggot dapat ditaburkan ke dalam biopori untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Pemerintah Kota Jakarta Timur telah menyiapkan jaringan 200 titik biopori di wilayah kecamatan utama serta meluncurkan program pelatihan bagi warga tentang budidaya maggot. Pendanaan awal berasal dari anggaran Dinas Lingkungan Hidup, dan dukungan teknis diberikan oleh lembaga riset pertanian.
Harapan jangka menengah adalah menurunkan volume sampah akhir yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) setidaknya 30%, sekaligus membuka peluang usaha mikro bagi warga melalui penjualan pakan ternak dan pupuk organik berbasis maggot.




