Mantan Amran Keluhkan Impor Beras, Ekspor Sepi: Stok 5 Juta Ton Siap Redam Harga
Mantan Amran Keluhkan Impor Beras, Ekspor Sepi: Stok 5 Juta Ton Siap Redam Harga

Mantan Amran Keluhkan Impor Beras, Ekspor Sepi: Stok 5 Juta Ton Siap Redam Harga

Frankenstein45.Com – 31 Maret 2026 | Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali menjadi sorotan publik setelah menyampaikan keluhan tentang dinamika impor beras yang tengah memanas, sementara berita tentang ekspor beras masih terbilang sepi. Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan target pemerintah untuk meningkatkan stok beras nasional menjadi 5 juta ton pada April 2026, sebuah langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga pangan di tengah ancaman iklim ekstrem.

Keluhan Impor, Sunyi Ekspor

Dalam sebuah konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Amran menyoroti bahwa proses impor beras kini menjadi perbincangan yang “ribut” di media dan kalangan pedagang. Ia menambahkan, “Saat impor beras menjadi isu panas, kenapa informasi tentang ekspor beras justru hampir tidak muncul?” Keluhan ini mencerminkan keprihatinan pemerintah terhadap ketidakseimbangan informasi yang dapat memengaruhi persepsi pasar dan konsumen.

Target Stok Nasional Mencapai 5 Juta Ton

Data resmi menunjukkan bahwa stok beras nasional telah mencapai 4,3 juta ton, angka tertinggi dalam sejarah Indonesia. Pemerintah menargetkan penambahan sebesar 0,7 juta ton dalam satu bulan ke depan, sehingga total stok akan melampaui 5 juta ton pada akhir April. Peningkatan ini direncanakan melalui dua jalur utama: peningkatan produksi dalam negeri dan optimalisasi penyimpanan.

Menurut Amran, kapasitas penyimpanan pemerintah saat ini terbatas pada sekitar 3 juta ton. Untuk menutupi kekurangan tersebut, Kementerian Pertanian telah menyewa gudang tambahan dengan kapasitas sekitar 2 juta ton. “Kapasitas gudang hanya 3 juta ton, maka kami harus menambah dengan menyewa gudang sebesar 2 juta ton,” ujarnya.

Penurunan Harga Pupuk dan Dampaknya bagi Petani

Langkah lain yang mendukung peningkatan produksi adalah penurunan harga pupuk sebesar 20 persen. Amran menegaskan, “Harga pupuk turun 20 persen, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya dan memberikan ruang bagi petani untuk meningkatkan produktivitas tanpa menambah beban biaya yang signifikan.” Penurunan harga pupuk diharapkan dapat menstimulasi penanaman padi lebih luas dan meningkatkan hasil panen.

El Nino “Godzilla” Tidak Akan Menggoyang Harga

Fenomena El Nino ekstrem, yang dijuluki “El Nino Godzilla”, diperkirakan akan mulai memengaruhi cuaca Indonesia sejak April mendatang. Namun, Amran optimis bahwa stok pangan nasional sudah cukup untuk menahan dampak kekeringan. Ia menyebutkan bahwa total persediaan beras, termasuk yang berada di Bulog (4,3 juta ton), di sektor hotel‑restoran‑rumah tangga (12,5 juta ton), serta standing crop yang siap panen (sekitar 11 juta ton), dapat memenuhi kebutuhan hingga 15 bulan ke depan.

“Jika kita hitung, stok beras saat ini dapat mencukupi kebutuhan selama 10 bulan, sementara El Nino hanya berlangsung enam bulan. Artinya ada overlap yang cukup aman,” jelasnya.

Pengurangan Impor Beras Secara Signifikan

Pada tahun 2023, pemerintah sempat merencanakan impor beras hingga 10 juta ton untuk mengantisipasi defisit produksi. Namun, melalui serangkaian kebijakan percepatan produksi dalam negeri, target impor berhasil ditekan menjadi sekitar 3,7 juta ton. Amran menegaskan, “Dulu kami ingin impor 10 juta ton, namun berhasil kami turunkan menjadi tiga juta ton lebih,” menandakan keberhasilan strategi ketahanan pangan.

Ekspor Beras Masih Minim

Berbeda dengan impor yang menjadi topik hangat, ekspor beras belum mendapatkan sorotan yang memadai. Amran mengakui bahwa data ekspor masih terbatas dan belum ada kebijakan khusus yang mendorong peningkatan ekspor. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena peningkatan ekspor dapat menjadi sumber devisa dan menambah nilai tambah bagi sektor pertanian.

Implikasi Terhadap Harga Pangan

Stabilitas stok beras selama Ramadan dan hari‑hari besar keagamaan menjadi faktor penting dalam menahan inflasi. Amran mencatat, selama Ramadan tahun ini, harga beras tidak menjadi penyumbang utama inflasi, berbeda dengan tahun‑tahun sebelumnya di mana beras sering menempati posisi pertama. Dengan stok yang memadai, tekanan harga dapat ditekan, membantu menjaga daya beli masyarakat.

Secara keseluruhan, upaya pemerintah menambah stok hingga 5 juta ton, mengoptimalkan kapasitas penyimpanan, menurunkan harga pupuk, serta mengurangi ketergantungan pada impor menjadi langkah terintegrasi untuk menjamin ketahanan pangan Indonesia. Meski tantangan ekspor masih belum terpecahkan, kebijakan yang ada menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga stabilitas harga beras di tengah kondisi iklim yang tidak menentu.