Frankenstein45.Com – 19 April 2026 | Presiden Megawati Soekarnoputri baru‑baru ini mengajukan usulan penyelenggaraan Konferensi Asia‑Afrika (KAA) Jilid II sebagai platform diplomatik untuk menghadapi rangkaian goncangan geopolitik yang melanda dunia.
Gejolak terbaru meliputi ketegangan antara kekuatan Barat dan Timur, krisis energi, serta persaingan ekonomi yang memengaruhi stabilitas kawasan. Menurut Megawati, Indonesia dapat memanfaatkan posisi geografis dan sejarahnya sebagai penghubung antara dua benua untuk memfasilitasi dialog yang konstruktif.
Beberapa poin utama yang diharapkan tercapai melalui KAA Jilid II meliputi:
- Pembentukan mekanisme kolektif dalam menanggulangi konflik regional.
- Penguatan kerjasama ekonomi berbasis perdagangan yang adil.
- Peningkatan koordinasi kebijakan energi dan iklim.
- Pengembangan agenda keamanan bersama yang menghormati kedaulatan masing‑masing.
Usulan ini juga mengingat kembali keberhasilan KAA pertama pada tahun 1955, yang menjadi tonggak solidaritas negara‑negara berkembang. Megawati menekankan bahwa semangat “kerja sama selaras” harus diperbaharui agar relevan dengan tantangan abad ke‑21.
Jika terwujud, KAA Jilid II dapat menjadi arena bagi negara‑negara Asia‑Afrika untuk menyuarakan kepentingan bersama di forum internasional, sekaligus menyeimbangkan dominasi geopolitik tradisional.
Namun, realisasi konferensi ini tidak lepas dari tantangan, antara lain perbedaan prioritas nasional, keterbatasan anggaran, dan kebutuhan akan konsensus yang kuat di antara peserta. Oleh karena itu, proses persiapan harus melibatkan konsultasi intensif dengan para pemimpin regional serta lembaga multilateral terkait.
Dengan mengedepankan dialog multilateral, Megawati berharap KAA Jilid II dapat menjadi katalisator solusi damai bagi masalah geopolitik global yang semakin kompleks.




