Mengenang Juwono Sudarsono: Tokoh Reformasi 1998 yang Diakui SBY dan Ibas

Frankenstein45.Com – 30 Maret 2026 | Jakarta, 29 Maret 2026 – Dunia politik dan militer Indonesia berduka atas kepergian Prof. Juwono Sudarsono, mantan Menteri Pertahanan yang wafat pada Sabtu (28/3) pukul 13.45 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah. Kepergian sang intelektual tak hanya menandai hilangnya seorang pejabat tinggi, melainkan kehilangan figur yang mampu menjembatani antara dunia militer dan sipil sejak era reformasi 1998.

Presiden ke‑6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengungkapkan kenangan pribadi dan politiknya ketika mengenang Juwono dalam sebuah takziah di Gedung Kementerian Pertahanan. SBY menekankan peran penting Juwono dalam membantu TNI kembali ke jati diri, bebas dari politik praktis, sekaligus memperkuat pertahanan nasional pada masa transisi demokratis. “Ketika saya mengemban tugas pada tahun 1998, visi kami serupa: menegakkan pertahanan yang profesional dan tidak terjebak dalam dinamika politik,” ujar SBY.

Jejak Karier yang Menyentuh Lima Presiden

Juwono Sudarsono bukan sekadar Menteri Pertahanan di era SBY. Kariernya melintasi lima kepresidenan, dimulai dari masa Presiden Soeharto, berlanjut hingga Gus Dur, dan berakhir di bawah kepemimpinan SBY. Ia pernah menjabat sebagai penasihat senior dalam urusan pertahanan, serta mengemban tugas penting dalam pengembangan kebijakan keamanan nasional.

Di bawah kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Juwono memimpin reformasi sektor pertahanan, menekankan transparansi, akuntabilitas, dan modernisasi alutsista. Pada masa kepresidenan SBY, ia kembali dipercaya memegang jabatan Menteri Pertahanan, di mana ia mengarahkan program modernisasi persenjataan serta memperluas partisipasi Indonesia dalam misi peacekeeping di luar negeri.

Kontribusi pada Diplomasi dan Keamanan Internasional

Selain keahlian di bidang pertahanan, Juwono dikenal sebagai pakar hubungan internasional yang menorehkan jejak signifikan dalam diplomasi multilateral. Ia berperan aktif dalam negosiasi ASEAN terkait keamanan maritim, serta mendukung inisiatif Indonesia sebagai kontributor utama pasukan penjaga perdamaian di berbagai zona konflik.

Menurut Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), Juwono adalah “begawan ilmu hubungan internasional dan pertahanan yang sangat bersahaja.” Ibas menambahkan bahwa integritas dan profesionalisme Juwono menjadi contoh bagi generasi penerus, terutama dalam menjaga keseimbangan antara kekuatan militer dan nilai‑nilai demokratis.

Warisan Reformasi 1998

Reformasi 1998 menjadi titik balik penting dalam sejarah Indonesia, menandai berakhirnya rezim otoriter dan membuka ruang bagi demokratisasi. Juwono, sebagai intelektual Universitas Indonesia, memberikan kontribusi pemikiran yang mendalam tentang bagaimana militer dapat berperan sebagai penjaga kedaulatan tanpa melanggar prinsip demokrasi. Ia berargumen bahwa pertahanan dan diplomasi harus berjalan beriringan, sebuah pandangan yang kemudian diadopsi dalam kebijakan pertahanan SBY.

SBY menegaskan, “Pertahanan dan diplomasi adalah dua pilar yang tidak dapat dipisahkan. Mas Juwono selalu mengingatkan kami akan pentingnya sinergi keduanya untuk menjaga kedaulatan negara,” sambil mengajak seluruh elemen bangsa untuk melanjutkan semangat reformasi yang telah ia perjuangkan.

Dalam upacara pemakaman, keluarga, pejabat negara, serta tokoh masyarakat menuruti panggilan Ibas untuk terus meningkatkan kapasitas pertahanan dan diplomasi nasional, sebagai penghormatan terakhir kepada sang almarhum.

Kepergian Juwono Sudarsono meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi, namun warisan pemikiran dan kebijakannya akan terus menjadi landasan bagi kebijakan pertahanan dan hubungan internasional Indonesia ke depan.