Frankenstein45.Com – 06 Mei 2026 | Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyampaikan pada Selasa, 5 Mei, bahwa Washington tidak akan membiarkan upaya Iran untuk mengembalikan kontrol penuh atas Selat Hormuz menjadi hal yang dianggap normal. Pernyataan itu muncul di tengah ketegangan yang terus meningkat di kawasan Teluk Persia, khususnya setelah Iran menegaskan haknya untuk menutup selat tersebut sebagai bentuk tekanan politik.
Rubio menekankan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan laut yang krusial, melalui mana lebih dari satu pertiga minyak dunia mengalir setiap harinya. Karena itu, Amerika Serikat berkomitmen menjaga kebebasan navigasi dan memastikan tidak ada satu pihak pun yang dapat memonopoli akses tersebut.
Dalam sambutannya, Rubio menguraikan beberapa langkah yang siap diambil oleh pemerintah AS untuk menanggapi setiap upaya Iran yang dianggap mengancam keamanan maritim, antara lain:
- Meningkatkan kehadiran kapal patroli Angkatan Laut di wilayah Selat Hormuz.
- Melakukan latihan gabungan dengan sekutu regional, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
- Memberlakukan sanksi tambahan terhadap entitas atau individu yang mendukung kebijakan penutupan selat.
- Menggalang dukungan diplomatik di forum internasional untuk menegaskan pentingnya kebebasan navigasi.
Rubio juga mengingatkan bahwa setiap tindakan Iran yang menghambat alur perdagangan akan menimbulkan konsekuensi ekonomi yang signifikan, tidak hanya bagi negara-negara pengimpor minyak, tetapi juga bagi pasar energi global secara keseluruhan.
Sejumlah analis menilai pernyataan tersebut menandakan bahwa Amerika Serikat masih memandang Selat Hormuz sebagai zona strategis yang tidak boleh dikuasai sepihak. Mereka menambahkan bahwa kebijakan ini kemungkinan akan memperkuat kerja sama militer antara AS dan sekutu‑sekutunya di kawasan, sekaligus menambah tekanan pada Tehran untuk menurunkan retorika konfrontatifnya.




